Sumber foto: iStock

Tradisi Sungkeman Lebaran Soeharto: Warisan Budaya Jawa yang Bertahan 32 Tahun

Tanggal: 30 Mar 2025 12:22 wib.
Sebagai seorang pemimpin bangsa, segala aktivitas yang dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia pasti menarik perhatian masyarakat. Hal ini termasuk momen-momen penting yang dirayakan dalam kebudayaan, seperti Lebaran. Salah satu presiden yang dikenal dengan tradisi unik pada perayaan Lebaran adalah Soeharto, presiden Indonesia yang menjabat selama 32 tahun. Setiap kali Lebaran tiba, Soeharto melakukan satu tradisi yang berasal dari era kuno, yakni sungkeman.

Sungkeman adalah sebuah tradisi yang banyak dijumpai di kalangan masyarakat Jawa dan Sunda. Praktik ini melibatkan sikap hormat seseorang dengan mencium kaki atau dengkul orang yang dihormati, yang biasanya adalah orang tua atau sosok tertua dalam keluarga. Istilah "sungkeman" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti sujud, menggambarkan tanda bakti dan penghormatan. Dalam konteks keluarga, tradisi ini menjadi simbol kasih sayang dan penghormatan kepada orang-orang yang lebih tua.

Dalam autobiografi berjudul "A Political Biography" yang ditulis pada 2008, terungkap bahwa setelah adzan subuh berkumandang, Soeharto bersiap-siap untuk melaksanakan salat Id di Masjid Istiqlal yang megah. Setelah salat, Soeharto kembali ke kediamannya di Jalan Cendana, di mana tradisi sungkeman dilaksanakan. Momen ini tidak hanya melibatkan dirinya, tetapi juga istri dan anak-anaknya yang ikut serta dalam acara tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana Soeharto meneruskan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya yang dipegangnya.

Dalam setiap momen sungkeman, media sering meliput dan memberitakan acara tersebut, sehingga masyarakat luas menjadi lebih akrab dengan makna dan praktik tradisi sungkeman. Masyarakat merasa teredukasi mengenai nilai-nilai penghormatan kepada generasi yang lebih tua dan pentingnya mendapatkan doa restu dari mereka. Dalam suasana family gathering yang hangat ini, nilai kekeluargaan terlihat jelas, dan hal ini diteruskan dari generasi ke generasi.

Tradisi sungkeman di Indonesia sendiri memiliki akar yang dalam, mencerminkan kebiasaan yang berawal dari era kuno, terutama pada masa Kerajaan Hindu-Buddha yang terjadi ribuan tahun lalu. Pada masa itu, praktik ini dimulai sebagai simbol penghormatan kepada kaki para raja, yang dianggap memiliki kekuatan spiritual atau sakti. Kaki raja dianggap sebagai perwujudan Dewa Wisnu, sehingga mencium kaki raja menjadi tanda kebesaran dan kedewaan yang perlu dihormati.

Seiring dengan berjalannya waktu dan masuknya era Kerajaan Islam di Indonesia, makna di balik praktik mencium kaki ini mengalami perubahan. Meskipun bentuk dan cara pelaksanaannya tetap sama, kini mencium kaki orang tua tidak lagi dianggap sebagai penghormatan kepada sosok yang sakti, melainkan sebagai simbol penghormatan dan ungkapan terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah diberikan. Dalam hal ini, tradisi sungkeman berfungsi sebagai bentuk permohonan doa restu kepada orang tua, yang dianggap sebagai sumber berkah bagi kehidupan anak-anaknya.

Sementara Soeharto melaksanakan tradisi sungkeman di dalam keluarganya, banyak juga masyarakat umum yang mengikuti jejaknya. Hal ini bukan hanya sekadar mengikuti tradisi, tetapi sebagai momen refleksi akan nilai-nilai kekeluargaan dan penghormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di banyak daerah di Indonesia, sungkeman menjadi ritual penting yang menyatukan keluarga di saat perayaan Idul Fitri.

Momen sungkeman ini juga seringkali diisi dengan ungkapan rasa syukur atas segala berkah yang diterima selama setahun serta harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dalam konteks sosial, acara sungkeman dapat menjadi ajang untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga yang seringkali jarang berkumpul karena kesibukan masing-masing. Selain itu, sungkeman juga menjadi kesempatan bagi anak untuk menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang kepada orang tua serta mendapatkan doa dan restu mereka.

Dalam memahami tradisi ini, penting untuk dicatat bahwa variasi dalam pelaksanannya dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Misalnya, di Jawa Tengah, misalnya, sungkeman seringkali diiringi dengan doa-doa oleh para orang tua, sedangkan di Bali, ada tambahan upacara keagamaan yang melibatkan persembahan kepada leluhur. Meskipun memiliki variasi, esensi dari sungkeman tetap sama, yaitu penghormatan dan doa restu.

Melihat kembali pada sosok Soeharto, tradisi sungkeman merupakan hal yang sangat berharga dalam perjalanan hidup dan kepemimpinannya sebagai presiden. Dengan tetap menyusuri akar budaya yang kaya seperti ini, Soeharto tidak hanya mengambil makna dari tradisi tersebut, tetapi juga menghidupkan kembali pesan moral yang terkandung di dalamnya, yaitu pentingnya penghormatan kepada orang tua dan generasi yang lebih tua. 

Keberadaan tradisi sungkeman dalam perayaan Lebaran menghasilkan nuansa yang lebih berarti di tengah-tengah euforia perayaan. Ini menjadi pengingat bahwa setiap momen, berapa pun sederhana, dapat sarat makna, terutama saat melibatkan orang-orang terkasih.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved