Sejarah di Balik Penggunaan Karpet Merah pada Pesta Besar
Tanggal: 29 Agu 2025 09:03 wib.
Saat melihat acara-acara penghargaan bergengsi, festival film, atau kunjungan kenegaraan, ada satu elemen yang selalu mencuri perhatian: karpet merah. Jalur berwarna merah cerah ini bukan sekadar dekorasi biasa; ia adalah simbol kemewahan, kehormatan, dan status yang telah mengakar kuat dalam budaya visual kita. Penggunaan karpet merah untuk menyambut tamu-tamu penting punya sejarah panjang yang jauh melampaui era Hollywood modern. Ia berawal dari zaman kuno, di mana warna merah memiliki makna mendalam yang terkait dengan kekuasaan, keilahian, dan kekayaan.
Merah: Warna Kekuasaan dan Keilahian di Masa Lampau
Sejarah karpet merah bisa dilacak hingga ke peradaban kuno, di mana warna merah adalah salah satu pigmen paling sulit dan mahal untuk diproduksi. Pigmen merah cerah seringkali didapatkan dari zat langka seperti serangga cochineal atau mineral yang mahal, menjadikannya simbol eksklusif yang hanya bisa dimiliki oleh para penguasa dan bangsawan.
Salah satu rujukan tertua tentang penggunaan jalur merah ditemukan dalam drama Yunani kuno berjudul Agamemnon yang ditulis oleh Aeschylus pada tahun 458 SM. Dalam drama itu, Raja Agamemnon kembali dari Perang Troya, dan istrinya, Clytemnestra, menghampar "jalan karpet merah" yang megah untuk menyambutnya. Agamemnon awalnya menolak untuk berjalan di atasnya karena menganggapnya terlalu mewah dan hanya layak untuk dewa. Ini menunjukkan bahwa bahkan ribuan tahun lalu, berjalan di atas jalur merah dianggap sebagai hak istimewa yang berhubungan dengan status ilahi atau kekuasaan tertinggi.
Di Kekaisaran Romawi, warna ungu kemerahan (ungu Tyrian) yang sangat mahal dan langka digunakan untuk jubah para kaisar dan senator, semakin memperkuat asosiasi warna merah dengan kekuasaan, status, dan kekayaan yang tak tertandingi.
Bangkitnya Tradisi di Era Modern Awal
Tradisi penggunaan karpet merah mulai mengakar lebih dalam di era modern, terutama di kalangan kerajaan dan diplomat. Pada abad ke-19, karpet merah secara rutin digunakan untuk menyambut kepala negara, bangsawan, dan tamu kehormatan di stasiun kereta api, istana, atau saat acara-acara seremonial. Di Inggris, karpet merah dihampar untuk menyambut kunjungan ratu atau raja, menandakan jalur eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi mereka.
Pada tahun 1902, tradisi ini meluas ke Amerika Serikat saat jalur karpet merah dihampar di Stasiun Grand Central Terminal, New York, untuk menyambut kedatangan Presiden Theodore Roosevelt. Acara tersebut banyak diliput oleh media, menjadikan karpet merah sebagai simbol seremonial yang diakui secara luas.
Hollywood yang Mengubahnya Menjadi Ikon Pop Culture
Namun, yang benar-benar mengubah karpet merah dari tradisi seremonial menjadi fenomena global adalah Hollywood. Pada pemutaran perdana film Robin Hood yang dibintangi oleh Douglas Fairbanks pada tahun 1922, karpet merah dihampar dari jalan masuk bioskop Grauman's Egyptian Theatre hingga pintu masuk utama. Acara itu menjadi tontonan spektakuler yang menarik ribuan penonton, yang melihat para bintang film berjalan di atasnya.
Sejak saat itu, penggunaan karpet merah menjadi standar di setiap pemutaran perdana film besar. Acara-acara seperti Academy Awards (Oscar) mengadopsi tradisi ini, menjadikannya ikon global. Karpet merah Oscar, khususnya, bukan hanya sekadar jalur masuk; ia menjadi panggung di mana para selebriti memamerkan busana mereka, menciptakan momen-momen mode yang tak terlupakan dan menjadi bahan perbincangan di seluruh dunia.
Karpet merah semakin mempertegas statusnya sebagai simbol. Ia menciptakan batas visual yang jelas antara individu "penting" dan publik. Berjalan di atas karpet merah adalah pengakuan publik terhadap status, pencapaian, atau posisi seseorang, memisahkan mereka dari keramaian.
Selain itu, karpet merah juga berfungsi sebagai alat pemasaran yang kuat. Ia menciptakan hype dan eksklusivitas di sekitar sebuah acara, menarik perhatian media, fotografer, dan penggemar. Busana yang dikenakan, pose yang diambil, dan interaksi yang terjadi di atasnya menjadi berita utama, menciptakan buzz yang tak ternilai harganya bagi film, merek, atau acara yang bersangkutan.