Rahasia di Balik Anak Manja: Bukan Sekadar Dimanja, tapi Kurangnya Koneksi Emosional?
Tanggal: 2 Apr 2025 14:04 wib.
Tampang.com | Banyak orang beranggapan bahwa anak manja identik dengan sikap tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perilaku ini bukan sekadar hasil dari terlalu banyak dimanja atau bersikap egois. Justru, ada alasan yang lebih dalam yang sering kali tidak disadari oleh orang tua.
Menurut penelitian dari para ahli parenting sadar (conscious parenting) yang telah mengamati lebih dari 200 anak, sikap manja umumnya berasal dari kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, batasan yang tidak konsisten, serta minimnya koneksi antara anak dan orang tua. Berikut lima tanda anak terlalu dimanjakan dan cara efektif mengatasinya.
1. Sulit Menerima Penolakan Anak yang sulit menerima kata "tidak" sering kali bukan hanya karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga karena kebingungan akibat batasan yang tidak jelas. Jika aturan sering berubah atau mereka merasa tidak punya kendali atas keputusan yang berpengaruh pada dirinya, anak cenderung memberontak sebagai bentuk protes.
Cara mengatasinya: Alih-alih hanya mengatakan "tidak," coba validasi perasaan mereka dengan berkata, "Mama/Papa tahu kamu masih ingin bermain, tapi sekarang sudah waktunya tidur." Dengan pendekatan ini, anak memahami bahwa aturan dibuat bukan untuk mengontrol mereka, melainkan untuk menciptakan rasa aman dan kepercayaan.
2. Selalu Mencari Perhatian Berlebihan Anak yang terus-menerus mencari perhatian bukan berarti sekadar ingin menjadi pusat perhatian. Bisa jadi, mereka merasa kurang diperhatikan atau tidak yakin dengan posisinya dalam keluarga. Contohnya, anak yang sering menyela percakapan orang tua atau selalu ingin berada dekat dalam situasi sosial.
Cara mengatasinya: Luangkan waktu berkualitas setiap hari, setidaknya 10-20 menit, untuk berinteraksi dengan anak tanpa gangguan. Bisa dengan bermain bersama, mengobrol, atau sekadar mendengarkan mereka. Dengan begitu, anak merasa cukup diperhatikan tanpa harus mencari validasi secara berlebihan.
3. Tantrum untuk Mendapatkan Keinginannya Tantrum bukan sekadar strategi manipulasi, melainkan sinyal bahwa anak sedang kewalahan dan tidak tahu bagaimana menyalurkan emosinya dengan benar. Biasanya, hal ini terjadi karena mereka merasa tidak didengar, kehilangan kendali, atau mengalami terlalu banyak rangsangan dari lingkungan.
Cara mengatasinya: Tetap tenang dan validasi perasaan mereka. Katakan, "Mama/Papa tahu kamu sedang kesal sekarang." Lalu, tawarkan kenyamanan, misalnya dengan mengatakan, "Mama/Papa di sini sampai kamu merasa lebih baik." Dengan pendekatan ini, anak belajar mengelola emosinya melalui dukungan, bukan dengan kendali ketat.
4. Enggan Bertanggung Jawab Jika anak sering menghindari tugas seperti membereskan mainan atau mengerjakan pekerjaan rumah, bukan berarti mereka malas. Bisa jadi mereka terlalu sering dilindungi dari tantangan atau, sebaliknya, dipaksa mandiri sebelum waktunya.
Cara mengatasinya: Berikan tanggung jawab yang sesuai dengan usianya dan ajak anak terlibat dalam tugas rumah tangga secara kolaboratif, misalnya memasak bersama. Fokus pada usaha yang mereka lakukan, bukan hanya pada hasil akhirnya, agar anak merasa percaya diri dan lebih mandiri.
5. Kurang Bersyukur dan Mudah Frustrasi Anak yang tampak tidak bersyukur atau cepat frustrasi ketika tidak mendapatkan sesuatu bukan berarti egois. Hal ini sering kali disebabkan oleh kurangnya koneksi emosional dengan orang tua atau kurangnya kendali atas hal-hal dalam hidup mereka.
Cara mengatasinya: Tumbuhkan rasa syukur dengan momen kebersamaan, misalnya memasak bersama, membuat kartu ucapan, atau berbagi cerita kecil yang menyenangkan. Hindari memberikan hadiah setiap kali mereka melakukan sesuatu yang baik. Sebagai contoh, jika anak membantu membereskan rumah, alih-alih memberikan permen atau uang, cukup katakan, "Terima kasih sudah membantu, itu sangat berarti bagi Mama/Papa."
Kesimpulan Perilaku manja pada anak bukan sekadar akibat dari terlalu banyak dimanjakan, melainkan lebih kepada apakah kebutuhan emosional mereka sudah terpenuhi. Ketika orang tua mulai membangun koneksi emosional yang kuat, alih-alih sekadar mengontrol, setiap tantangan dalam mendidik anak bisa menjadi peluang untuk membentuk kepercayaan, rasa aman, dan ketahanan emosional yang akan bermanfaat sepanjang hidup mereka.