Mengapa Seseorang Bisa Jadi Sleepwalker?
Tanggal: 28 Agu 2025 14:43 wib.
Melihat seseorang berjalan atau melakukan aktivitas di tengah malam saat sedang terlelap mungkin terlihat seperti adegan dalam film. Namun, fenomena yang dikenal sebagai tidur berjalan (sleepwalking) atau somnambulisme ini adalah kondisi nyata yang dialami jutaan orang di seluruh dunia. Seseorang yang tidur berjalan bisa melakukan beragam aktivitas, mulai dari duduk di ranjang, berbicara, hingga keluar rumah, semua tanpa kesadaran penuh. Kondisi ini seringkali menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran, dan untuk memahami mengapa seseorang bisa menjadi sleepwalker, kita harus menelusuri bagaimana otak kita bekerja selama tidur.
Fase Tidur: Mengapa Sebagian Otak Terlelap, Sebagian Lain Bangun
Tidur bukanlah kondisi pasif. Selama kita terlelap, otak melewati siklus yang terbagi dalam beberapa tahapan, yaitu fase tidur non-REM (NREM) dan tidur REM (Rapid Eye Movement). Tidur berjalan biasanya terjadi selama fase NREM yang paling dalam, yaitu fase NREM-3. Pada tahap ini, otak berada dalam kondisi tidur yang paling dalam dan sulit untuk dibangunkan.
Uniknya, saat seseorang mengalami tidur berjalan, ada bagian-bagian otak yang tidak sepenuhnya terlelap. Area otak yang mengontrol gerakan motorik, seperti korteks motorik, masih aktif dan mampu merespons impuls, sementara area yang mengontrol kesadaran, memori, dan penalaran berada dalam kondisi tidur nyenyak. Ini menciptakan kondisi di mana seseorang bisa melakukan tindakan fisik tanpa menyadarinya. Otak seolah-olah mengalami "kebingungan" di mana ia tidak bisa sepenuhnya transisi antara tidur dan bangun, sehingga sebagian dari diri kita tertidur dan sebagian lainnya bangun.
Faktor Pemicu Tidur Berjalan
Tidur berjalan tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa pemicu, baik genetik maupun lingkungan.
1. Faktor Genetik dan Keturunan: Penelitian menunjukkan bahwa tidur berjalan seringkali menurun dalam keluarga. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat tidur berjalan, kemungkinan anak mereka juga mengalaminya akan jauh lebih tinggi. Para ilmuwan menduga ada gen tertentu yang berperan dalam memicu fenomena ini, meskipun gen spesifiknya masih terus diteliti. Ini menjelaskan mengapa tidur berjalan lebih sering terjadi pada anak-anak. Seiring bertambahnya usia, sistem saraf mereka menjadi lebih matang, dan kondisi ini biasanya akan hilang dengan sendirinya.
2. Kondisi Fisik dan Kesehatan: Berbagai kondisi fisik dan kesehatan bisa menjadi pemicu tidur berjalan. Beberapa di antaranya termasuk demam tinggi, kurang tidur kronis, dan stres berlebihan. Kurang tidur dapat mengganggu siklus tidur-bangun normal, membuat transisi antar fase tidur menjadi tidak stabil. Selain itu, kondisi medis seperti sleep apnea (gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan terhenti sejenak), penyakit Parkinson, dan beberapa jenis migrain juga dikaitkan dengan peningkatan risiko tidur berjalan. Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat penenang dan obat tidur, juga bisa memicu somnambulisme sebagai efek samping.
3. Faktor Psikologis dan Lingkungan: Stres dan kecemasan adalah pemicu psikologis yang sangat umum. Pikiran yang tertekan atau emosi yang tidak stabil sebelum tidur bisa mengganggu tidur nyenyak, meningkatkan kemungkinan terjadinya tidur berjalan. Perubahan lingkungan tidur, seperti tidur di tempat baru, suara bising, atau cahaya terang, juga bisa memicu episode tidur berjalan. Selain itu, konsumsi alkohol dan kafein sebelum tidur juga dapat mengganggu fase tidur dalam, sehingga meningkatkan risiko seseorang mengalami tidur berjalan.
Keselamatan Adalah Prioritas Utama
Meskipun tidur berjalan tidak berbahaya dalam dirinya sendiri, bahaya nyata terletak pada potensi kecelakaan yang bisa terjadi. Seseorang yang tidur berjalan tidak menyadari lingkungan sekitarnya, sehingga mereka bisa tersandung, jatuh dari tangga, keluar dari rumah ke jalan raya, atau bahkan melakukan tindakan berbahaya tanpa disadari. Oleh karena itu, langkah-langkah keamanan sangat penting untuk diambil.
Jika tinggal bersama seseorang yang tidur berjalan, pastikan lingkungan rumah aman. Kunci semua pintu dan jendela, singkirkan benda-benda tajam atau rapuh dari jangkauan, dan pasang alarm atau sensor di pintu kamar tidur untuk mendeteksi jika orang tersebut keluar.
Banyak orang ragu-ragu untuk membangunkan sleepwalker karena khawatir akan reaksinya. Membangunkan mereka memang bisa membuat bingung, tapi itu lebih baik daripada membiarkan mereka dalam bahaya. Jika perlu, bangunkan dengan lembut, tanpa berteriak, dan tuntun mereka kembali ke tempat tidur.