Sumber foto: Canva

Mengapa Sebagian Orang Sulit Menabung Meski Punya Penghasilan Cukup?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:05 wib.
Menabung sering dianggap sebagai kebiasaan yang sederhana: sisihkan sebagian uang sebelum dihabiskan. Secara logika, siapa pun yang punya penghasilan memadai seharusnya bisa melakukannya dengan mudah. Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Banyak orang yang berpenghasilan stabil justru kesulitan menyisihkan uang, bahkan untuk tujuan jangka pendek. Fenomena ini bukan semata-mata masalah penghasilan, melainkan melibatkan faktor psikologis, sosial, dan kebiasaan yang seringkali tak disadari.

Perangkap Gaya Hidup dan Tekanan Sosial

Salah satu alasan utama seseorang kesulitan menabung adalah perangkap gaya hidup. Seiring meningkatnya penghasilan, pengeluaran juga cenderung ikut naik. Fenomena ini dikenal sebagai inflasi gaya hidup atau lifestyle creep. Seseorang yang sebelumnya puas dengan gaya hidup sederhana, begitu penghasilan bertambah, mulai merasa "berhak" untuk membeli barang-barang yang lebih mahal, makan di restoran mewah, atau berlibur ke tempat-tempat yang lebih jauh. Tanpa disadari, pengeluaran ini menyerap semua kenaikan pendapatan, membuat saldo tabungan tetap stagnan.

Tekanan sosial juga memainkan peran besar. Di era media sosial, kita terus-menerus terpapar dengan kehidupan ideal orang lain. Kita melihat teman-teman berlibur, membeli gadget terbaru, atau mengenakan pakaian bermerek. Secara tidak langsung, ini menciptakan FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan ketinggalan tren. Kita merasa perlu ikut serta dalam gaya hidup konsumtif ini agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Keinginan untuk diakui dan diterima secara sosial sering kali lebih kuat daripada kesadaran untuk menabung demi masa depan.

Kurangnya Disiplin dan Tujuan Finansial yang Jelas

Menabung bukanlah tindakan spontan; ini adalah hasil dari disiplin yang konsisten. Banyak orang gagal menabung karena tidak memiliki rencana yang jelas atau tidak memprioritaskan tabungan. Uang yang masuk ke rekening lebih sering dianggap sebagai "uang yang siap dihabiskan" daripada sebagai alat untuk mencapai tujuan. Tanpa tujuan yang spesifik, seperti dana darurat, uang muka rumah, atau biaya pendidikan anak, tidak ada motivasi kuat untuk menyisihkan uang secara teratur.

Selain itu, godaan untuk melakukan pembelian impulsif sangatlah besar. Iklan, promosi, dan kemudahan belanja online membuat kita sulit menahan diri. Sebuah rencana keuangan yang matang, termasuk anggaran bulanan, adalah kunci. Namun, banyak orang mengabaikan langkah ini dan memilih mengelola keuangan secara reaktif—mengeluarkan uang sampai habis, baru memikirkan sisanya.

Pola Pikir dan Pengaruh Psikologis

Masalah menabung juga berakar pada pola pikir seseorang terhadap uang. Ada yang melihat uang sebagai sumber kebahagiaan instan, bukan sebagai alat untuk membangun keamanan jangka panjang. Ada juga yang memiliki keyakinan keliru seperti "lebih baik hidup hari ini karena besok belum tentu ada" tanpa mempertimbangkan konsekuensi finansial di masa depan. Pola pikir ini bisa terbentuk dari pengalaman masa lalu, misalnya, hidup dalam kekurangan yang membuat mereka jadi takut untuk tidak menikmati uang saat ada.

Aspek psikologis lain adalah kecenderungan untuk mengabaikan masa depan. Otak kita sering kali lebih fokus pada kepuasan jangka pendek daripada imbalan yang akan datang. Mengeluarkan uang untuk barang yang diinginkan hari ini terasa lebih menyenangkan daripada membayangkan tabungan yang akan berguna 10 tahun dari sekarang. Inilah mengapa menabung terasa seperti sebuah pengorbanan, padahal sejatinya adalah investasi untuk diri sendiri di masa depan.

Tidak Memisahkan Dana dan Menggunakan Rekening yang Salah

Kesalahan teknis dalam mengelola uang juga jadi penyebab. Banyak orang menyimpan semua uang mereka, termasuk uang untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, dan dana darurat, dalam satu rekening bank. Ini membuat pengeluaran menjadi tidak terkontrol. Seringkali, saat butuh uang untuk sesuatu yang tidak terduga, mereka mengambilnya dari dana tabungan.

Solusinya sederhana: memisahkan rekening. Satu rekening untuk gaji dan pengeluaran rutin, satu rekening khusus untuk tabungan, dan satu lagi untuk dana darurat. Dengan cara ini, uang tabungan "tidak terlihat" dan tidak mudah diakses. Menggunakan fitur otomatis transfer di bank, di mana sebagian gaji langsung masuk ke rekening tabungan begitu gajian, adalah cara yang sangat efektif untuk memaksa diri menabung.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved