Mengapa Saraf Kejepit Sering Menghantui: Memahami Penyebab Utamanya
Tanggal: 28 Agu 2025 14:40 wib.
Sakit leher, nyeri punggung yang menjalar, atau rasa kebas dan kesemutan di tangan dan kaki seringkali dianggap sepele. Padahal, bisa jadi itu adalah pertanda saraf kejepit atau radikulopati, sebuah kondisi yang terjadi ketika saraf tertekan oleh jaringan di sekitarnya. Saraf kejepit bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari masalah mendasar. Memahami penyebabnya adalah kunci untuk pencegahan dan penanganan yang tepat, mengingat kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup.
Faktor Usia dan Degenerasi Tulang Belakang
Seiring bertambahnya usia, tubuh kita mengalami proses alami yang disebut degenerasi. Pada tulang belakang, proses ini menyebabkan bantalan tulang (diskus) yang berada di antara ruas-ruas tulang belakang mulai mengering, menyusut, dan kehilangan elastisitasnya. Diskus ini berfungsi sebagai peredam kejut dan memberikan ruang bagi saraf. Ketika bantalan ini menipis atau menonjol keluar, mereka bisa menekan saraf di sekitarnya, memicu rasa sakit.
Selain itu, pertambahan usia juga bisa memicu pertumbuhan tulang taji atau osteofit. Ini adalah pertumbuhan tulang baru yang tidak normal sebagai respons tubuh terhadap tekanan atau keausan pada sendi. Tulang taji ini bisa tumbuh di sepanjang tulang belakang dan menekan saraf, menimbulkan nyeri. Kondisi ini sering terjadi pada area leher (servikal) atau punggung bawah (lumbar) dan menjadi penyebab utama saraf kejepit pada orang lanjut usia.
Cedera Akibat Trauma atau Aktivitas Berlebihan
Bukan hanya masalah usia, cedera juga menjadi penyebab umum saraf kejepit. Trauma fisik, seperti kecelakaan lalu lintas, terjatuh, atau cedera saat berolahraga, bisa menyebabkan kerusakan pada tulang belakang, diskus, atau jaringan di sekitarnya. Cedera ini dapat memicu pergeseran tulang belakang atau pecahnya diskus, yang langsung menekan saraf.
Aktivitas berlebihan atau gerakan berulang-ulang yang salah juga berperan besar. Misalnya, mengangkat benda berat dengan posisi punggung yang tidak benar bisa menyebabkan hernia nukleus pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal dengan "saraf kejepit HNP". Kondisi ini terjadi ketika bagian lunak dari diskus keluar dari tempatnya dan menekan saraf. Gerakan repetitif seperti membungkuk, berputar, atau bahkan duduk dengan posisi yang sama dalam waktu lama tanpa istirahat juga dapat memberikan tekanan konstan pada saraf.
Postur Tubuh yang Buruk dan Gaya Hidup Sedentari
Gaya hidup modern dengan kebiasaan duduk berjam-jam di depan komputer atau melihat layar ponsel seringkali menyebabkan postur tubuh yang buruk. Membungkuk, menunduk, atau bersandar dengan posisi yang tidak ergonomis bisa menempatkan tekanan ekstra pada tulang belakang dan leher. Posisi ini memaksa otot, ligamen, dan tulang bekerja di luar batas normal, yang pada akhirnya bisa memicu peradangan dan pembengkakan, menekan saraf.
Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi masalah. Otot-otot pendukung tulang belakang, seperti otot perut dan punggung, menjadi lemah jika jarang dilatih. Otot yang lemah tidak mampu menopang tulang belakang dengan baik, membuat tulang belakang lebih rentan terhadap cedera dan tekanan yang bisa mengakibatkan saraf kejepit. Gerakan yang salah akibat otot yang tidak fleksibel juga bisa memicu masalah ini.
Faktor Medis dan Kondisi Kesehatan Lainnya
Beberapa kondisi kesehatan juga bisa meningkatkan risiko saraf kejepit. Misalnya, radang sendi atau artritis reumatoid bisa menyebabkan peradangan di sendi tulang belakang, yang kemudian menekan saraf. Demikian pula, diabetes bisa menyebabkan kerusakan saraf (neuropati diabetik) dan membuat saraf lebih rentan terhadap tekanan dan cedera.
Selain itu, obesitas juga berperan penting. Berat badan berlebih memberikan tekanan ekstra pada seluruh tulang belakang, terutama di area punggung bawah dan leher. Beban tambahan ini bisa mempercepat keausan diskus dan sendi, meningkatkan risiko saraf kejepit. Kehamilan juga bisa menyebabkan saraf kejepit sementara karena perubahan berat badan dan hormon yang memengaruhi ligamen dan sendi.