Sumber foto: Canva

Mengapa Kita Bisa Mengalami Déjà Vu?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:44 wib.
Sensasi aneh dan misterius itu bisa datang kapan saja. Mungkin saat berada di kota baru, melihat pemandangan yang belum pernah dilihat, atau bahkan saat berbincang dengan orang asing, tiba-tiba muncul perasaan kuat bahwa momen ini pernah terjadi sebelumnya. Sensasi familiar yang kuat dan membingungkan ini dikenal sebagai déjà vu, sebuah frasa dari bahasa Prancis yang berarti "sudah pernah dilihat". Hampir semua orang pernah mengalaminya, tetapi apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena ini? Sejak lama, para ilmuwan dan peneliti mencoba mengungkap misteri déjà vu, dan ternyata, ada beberapa teori ilmiah yang mencoba menjelaskannya.

Pergeseran Waktu di Otak: Teori Paling Populer

Salah satu teori yang paling banyak diterima di kalangan ahli saraf adalah teori pemrosesan memori yang terdistorsi atau pergeseran waktu di otak. Teori ini menjelaskan bahwa déjà vu terjadi ketika ada kesalahan sinkronisasi kecil dalam pemrosesan informasi di otak. Bayangkan otak kita sebagai sebuah komputer yang memiliki banyak folder untuk menyimpan data. Informasi yang baru kita lihat atau alami seharusnya melewati serangkaian folder pemrosesan memori.

Saat terjadi déjà vu, ada kemungkinan informasi yang baru saja kita terima entah bagaimana melewati jalur pintas ke memori jangka panjang, sebelum sempat diproses oleh memori jangka pendek. Ketika informasi tersebut akhirnya diproses oleh memori jangka pendek, otak kita keliru menafsirkannya sebagai kenangan dari masa lalu. Jadi, otak kita menganggap pengalaman yang sedang terjadi itu sebagai "pengalaman lama" yang muncul dari memori, padahal sebenarnya itu baru saja terjadi. Singkatnya, otak kita keliru mencap waktu pada sebuah pengalaman.

Teori Otak Kiri dan Otak Kanan

Teori lain yang juga mendapat perhatian adalah teori perbedaan fungsi otak kanan dan otak kiri. Otak kanan kita bertanggung jawab untuk kreativitas dan pengenalan pola yang cepat, sedangkan otak kiri lebih analitis dan bertugas untuk detail. Déjà vu mungkin terjadi ketika otak kanan kita mengenali pola dari suatu situasi secara sangat cepat, bahkan sebelum otak kiri kita sempat memproses detailnya.

Karena pengenalan pola yang instan ini, otak kanan mengirim sinyal "familiar" kepada otak kiri. Saat otak kiri akhirnya memproses semua detail, ia menerima sinyal familiar tersebut dan bingung, sehingga ia menyimpulkan bahwa situasi itu sudah pernah dialami. Ketidakselarasan antara pengenalan cepat dan pemrosesan detail inilah yang menciptakan sensasi aneh déjà vu.

Koneksi dengan Pengalaman Masa Lalu yang Tidak Disadari

Beberapa peneliti berpendapat bahwa déjà vu mungkin terkait dengan pengalaman-pengalaman yang kita alami di masa lalu namun tidak kita sadari atau tidak kita ingat secara sadar. Sebagai contoh, seseorang mungkin pernah mengunjungi sebuah tempat dengan pemandangan yang mirip dengan apa yang dilihatnya sekarang, meskipun ia tidak memiliki ingatan yang jelas tentang kunjungan itu.

Ketika melihat pemandangan yang mirip, otak kita secara tidak sadar mengenali kesamaan pola tersebut, tetapi tidak bisa memanggil ingatan spesifik. Ketidakmampuan untuk menghubungkan perasaan familiar dengan kenangan yang konkret itulah yang memicu sensasi déjà vu. Hal ini juga bisa berlaku untuk percakapan, aroma, atau bahkan suara. Ini mirip dengan "memori bawah sadar" yang tiba-tiba muncul ke permukaan.

Hubungan dengan Kondisi Neurologis

Meskipun déjà vu adalah fenomena umum, para ahli juga menemukan bahwa ada hubungan antara déjà vu dan kondisi neurologis tertentu. Seringnya mengalami déjà vu bisa menjadi gejala dari penyakit atau kondisi seperti epilepsi lobus temporal. Lobus temporal adalah bagian otak yang bertanggung jawab untuk memori dan pengenalan. Ketika lobus temporal mengalami gangguan listrik atau kejang, salah satu gejalanya adalah déjà vu, atau bahkan déjà rêvé (perasaan pernah mengalami mimpi itu sebelumnya).

Bagi kebanyakan orang, déjà vu adalah fenomena yang terjadi sesekali dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika déjà vu terjadi sangat sering, terus-menerus, atau disertai gejala lain seperti kehilangan kesadaran, kejang, atau sensasi aneh lainnya, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli saraf untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Meskipun banyak teori yang mencoba menjelaskan déjà vu, para ilmuwan sepakat bahwa fenomena ini masih merupakan misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan. Karena terjadi secara tiba-tiba dan tidak bisa dipicu atau diukur di laboratorium, déjà vu sulit untuk dipelajari secara sistematis. Teori-teori yang ada sejauh ini hanyalah hipotesis terbaik yang kita miliki, yang didasarkan pada pemahaman kita tentang cara kerja otak.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved