Mengapa Gigi Bungsu Sering Bermasalah?
Tanggal: 28 Agu 2025 14:40 wib.
Gigi bungsu, atau yang dikenal juga sebagai molar ketiga, seringkali menjadi sumber masalah bagi banyak orang. Gigi ini biasanya mulai tumbuh di usia remaja akhir atau awal dua puluhan, di saat gigi-gigi lainnya sudah tumbuh sempurna. Banyaknya keluhan yang muncul seputar gigi bungsu, mulai dari rasa sakit, gusi bengkak, hingga masalah yang lebih serius, membuat gigi ini mendapat reputasi buruk. Sebenarnya, mengapa gigi bungsu sering sekali bermasalah, dan apa penyebab utamanya? Untuk memahami itu, kita perlu melihat kembali evolusi manusia dan anatomi rahang kita.
Evolusi dan Ukuran Rahang yang Menyusut
Ribuan tahun lalu, nenek moyang kita memiliki rahang yang lebih besar untuk mengunyah makanan yang lebih kasar, seperti daging mentah dan tumbuh-tumbuhan yang belum diolah. Gigi bungsu saat itu punya fungsi yang sangat penting dalam membantu proses pengunyahan ini. Namun, seiring berjalannya evolusi dan perubahan pola makan manusia menjadi lebih modern (makanan yang lebih lunak, dimasak, dan diproses), ukuran rahang manusia juga perlahan-lahan menyusut.
Sayangnya, proses penyusutan rahang ini tidak diimbangi dengan berkurangnya jumlah gigi. Akibatnya, saat gigi bungsu mulai tumbuh di akhir masa remaja, seringkali tidak ada lagi ruang yang cukup di bagian belakang rahang untuk menampungnya dengan sempurna. Keterbatasan ruang inilah yang menjadi pemicu utama hampir semua masalah gigi bungsu.
Gigi Impaksi: Posisi Tumbuh yang Salah
Kurangnya ruang di rahang menyebabkan gigi bungsu tidak bisa tumbuh tegak lurus seperti gigi lainnya. Kondisi ini disebut gigi impaksi. Gigi bungsu yang impaksi bisa tumbuh dengan posisi yang miring, horizontal (mendatar), atau bahkan tertanam di bawah gusi dan menekan gigi molar kedua di sebelahnya.
Gigi impaksi ini bisa menimbulkan berbagai masalah. Yang paling umum adalah rasa sakit dan peradangan. Saat gigi tumbuh miring, ia menekan gigi lain, syaraf, atau bahkan gusi, yang bisa menyebabkan nyeri hebat. Selain itu, posisi yang tidak sempurna membuat sisa-sisa makanan mudah terjebak di area tersebut, dan karena sulit dijangkau saat menyikat gigi, area ini menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.
Perikoronitis: Infeksi Gusi yang Menyakitkan
Saat gigi bungsu hanya sebagian yang muncul ke permukaan gusi, celah yang terbentuk di sekitarnya disebut operkulum. Celah ini sangat sulit dibersihkan dan menjadi perangkap bagi sisa makanan dan bakteri. Kondisi ini memicu perikoronitis, yaitu infeksi dan peradangan pada gusi yang mengelilingi gigi bungsu.
Gejala perikoronitis bisa sangat mengganggu, termasuk gusi yang bengkak, merah, nyeri hebat saat mengunyah, bahkan bisa menyebabkan nanah dan demam. Infeksi ini bisa menyebar ke jaringan lain di mulut dan memerlukan penanganan medis segera, bahkan mungkin pemberian antibiotik untuk meredakannya.
Risiko Kerusakan Gigi dan Penyakit Gusi
Gigi bungsu yang impaksi tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga bisa merusak gigi lain di dekatnya. Posisi miringnya bisa menekan gigi molar kedua di sebelahnya, menyebabkan kerusakan pada akar, merusak enamel, dan bahkan meningkatkan risiko gigi berlubang pada gigi tersebut. Selain itu, kesulitan membersihkan area gigi bungsu juga meningkatkan risiko penyakit gusi (periodontitis) di bagian belakang mulut, yang jika dibiarkan bisa mengancam stabilitas gigi lainnya.
Bahkan jika gigi bungsu tumbuh tegak dan sempurna, letaknya yang paling belakang membuatnya sangat sulit untuk dibersihkan dengan benar. Sikat gigi sering kali tidak bisa menjangkaunya secara optimal, sehingga risiko gigi berlubang dan penumpukan plak tetap tinggi. Gigi bungsu yang berlubang juga sangat sulit untuk ditambal karena lokasinya, dan seringkali solusinya adalah pencabutan.
Masalah Lain yang Mungkin Timbul
Selain masalah-masalah di atas, gigi bungsu juga bisa menjadi penyebab masalah lain, seperti kista atau tumor. Kista bisa terbentuk di sekitar gigi yang impaksi dan bisa merusak tulang rahang di sekitarnya. Meskipun kasus ini jarang terjadi, ini adalah salah satu alasan mengapa dokter gigi sering kali merekomendasikan pencabutan gigi bungsu yang bermasalah.
Rasa sakit kronis dari gigi bungsu juga bisa berdampak pada kualitas hidup. Rasa nyeri yang terus-menerus bisa mengganggu tidur, konsentrasi, dan suasana hati secara keseluruhan. Dalam kasus-kasus ekstrem, nyeri dari gigi bungsu bahkan bisa menjalar ke telinga atau kepala, menyerupai sakit kepala.
Tidak semua gigi bungsu harus dicabut. Jika gigi bungsu tumbuh sempurna, posisinya tegak, dan mudah dibersihkan, dokter gigi mungkin tidak merekomendasikan pencabutan. Namun, jika gigi bungsu menyebabkan nyeri, infeksi berulang, merusak gigi lain, atau tumbuh impaksi, pencabutan seringkali menjadi solusi terbaik untuk mencegah masalah jangka panjang.