Infeksi Berulang Demam Berdarah Dengue Berisiko Lebih Berat, Dokter Tekankan Pencegahan Sejak Dini

Tanggal: 26 Agu 2025 16:39 wib.
Para tenaga medis kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya demam berdarah dengue (DBD), terutama bila seseorang mengalami infeksi berulang. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini ternyata bukan hanya bisa dialami sekali dalam hidup, melainkan berulang kali karena adanya empat serotipe virus dengue yang berbeda. Ketika seseorang terpapar lebih dari satu kali, kondisi tersebut justru berisiko menimbulkan gejala yang jauh lebih berat, bahkan dapat mengancam jiwa. Hal ini ditegaskan oleh dokter spesialis anak Rumah Sakit Borromeus Bandung, dr. Tony Ijong Dachlan, Sp.A, dalam gelar wicara memperingati Hari Ulang Tahun RS Borromeus ke-104 pada Minggu lalu. Ia menjelaskan bahwa dari berbagai data yang dihimpun, sekitar 45 persen kematian akibat dengue terjadi pada kelompok usia anak 5–14 tahun, yang merupakan golongan paling rentan. Ironisnya, pada orang dewasa, infeksi yang tidak menimbulkan gejala pun tetap berbahaya karena bisa menjadi sumber penularan bagi anggota keluarga lain yang tinggal serumah.

Menurut dr. Tony, inilah alasan mengapa langkah pencegahan wajib dimulai dari lingkungan terdekat, yakni rumah. Mengendalikan nyamuk, menjaga kebersihan, serta mencegah perkembangbiakan jentik merupakan bentuk perlindungan utama yang harus dilakukan secara konsisten. Hal senada disampaikan pula oleh dr. Stephanie Yuliana Usman, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam RS Borromeus, yang menambahkan bahwa hingga saat ini belum ditemukan obat khusus yang benar-benar mampu membunuh virus dengue. Semua terapi medis yang ada hanya berfungsi meredakan gejala, menjaga kestabilan pasien, dan mencegah komplikasi. Karena itu, pada pasien dengan penyakit penyerta seperti obesitas, diabetes melitus, gangguan ginjal, atau hipertensi, kondisi DBD berpotensi berkembang menjadi lebih parah sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra.

Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan hingga minggu ke-25 tahun 2025, Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Indonesia. Angkanya mencapai 17.281 kasus dengan 61 kematian. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menduduki posisi kedua sebagai daerah dengan kasus terbanyak, sementara Kabupaten Bandung berada pada urutan ketiga. Fakta ini memperlihatkan bahwa ancaman DBD tidak bisa dipandang sebelah mata, khususnya di wilayah padat penduduk. Direktur Medis RS Borromeus, dr. Marvin Marino, menegaskan bahwa pihak rumah sakit tidak hanya fokus memberikan pelayanan kuratif bagi pasien yang sudah sakit, melainkan juga berkomitmen memperkuat upaya promotif dan preventif. Menurutnya, peran rumah sakit harus menyentuh masyarakat lebih luas dengan cara memberikan edukasi, penyuluhan, serta membekali warga dengan pengetahuan dan kebiasaan hidup sehat agar mampu melindungi diri sebelum jatuh sakit.

Upaya pencegahan demam berdarah sejatinya dapat dilakukan melalui langkah sederhana namun konsisten, yakni menerapkan Gerakan 3M Plus. Masyarakat dihimbau untuk selalu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk. Adapun tambahan dari “plus” berarti melakukan berbagai upaya lain seperti menggunakan kelambu, memasang obat nyamuk, memakai lotion anti nyamuk, hingga menanam tanaman pengusir nyamuk di sekitar rumah. Belakangan, para ahli kesehatan juga mulai merekomendasikan vaksinasi dengue sebagai salah satu bentuk perlindungan tambahan bagi masyarakat yang memenuhi syarat.

Menariknya, dalam kesempatan yang sama RS Borromeus juga menyoroti bahwa selain penyakit menular seperti DBD, beban penyakit tidak menular di Bandung dan Jawa Barat juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit-penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, serta gangguan kardiovaskular kini menjadi ancaman besar bagi kualitas hidup masyarakat. Melalui rangkaian talk show yang dihadiri lebih dari 800 warga, RS Borromeus mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarga, dengan menjalankan pola hidup sehat, menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta memperhatikan faktor risiko sejak dini. Dengan begitu, diharapkan masyarakat bukan hanya terlindungi dari ancaman penyakit menular seperti DBD, tetapi juga mampu mengurangi resiko terserang penyakit tidak menular yang semakin meningkat prevalensinya.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved