FOMO dan JOMO: Kebebasan Menikmati Hidup tanpa Rasa Khawatir
Tanggal: 27 Mar 2025 14:32 wib.
Pernahkah kamu merasakan kegelisahan ketika melihat orang-orang terdekatmu bersenang-senang di acara-acara seru, mengunjungi tempat-tempat indah, atau bahkan hanya menikmati momen kecil yang tampak menyenangkan? Jika iya, mungkin kamu sedang terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan.
Di zaman media sosial yang penuh dengan visual menarik, FOMO semakin sulit untuk dihindari. Setiap kali kamu membuka platform seperti Instagram atau TikTok, aktivitas orang lain sering kali terlihat jauh lebih menarik dibandingkan dengan rutinitasmu sehari-hari. Namun, penting untuk diingat: apakah benar kamu harus selalu terlibat dalam setiap momen itu? Atau mungkin ada cara lain untuk menikmati hidup tanpa merasa terbebani oleh perasaan "kurang"?
Di sinilah konsep JOMO (Joy of Missing Out) bermain. JOMO menawarkan seni menikmati hidup dengan lebih tenang dan bahagia tanpa harus terjun ke dalam setiap aktivitas sosial yang ada. Bayangkan suatu kondisi di mana kamu bisa memilih untuk tidak hadir di sebuah acara tanpa merasa bersalah. Kamu tidak pergi bukan karena tidak diundang, melainkan karena menyadari bahwa waktu untuk dirimu sendiri jauh lebih bernilai.
FOMO sering kali membuatmu merasa terdesak untuk selalu mengikuti tren terbaru, baik itu tentang fashion, makanan, atau kegiatan sosial lainnya. Rasa takut ketinggalan ini dapat membuatmu cemas, bahkan saat kamu sebenarnya sedang menikmati waktu sendiri. Tak jarang, saat bersantai di rumah, pikiranmu malah teralihkan oleh pertanyaan "Apa yang sedang dilakukan teman-teman saya?" atau "Akan ada apa di acara yang saya lewatkan ini?". Perasaan ini menjebakmu dalam siklus perbandingan yang tidak sehat.
Apakah kamu merasa hidupmu membosankan ketika melihat teman-temanmu menghabiskan waktu di tempat-tempat eksotis? Bagaimana ketika seseorang meraih kesuksesan yang tampaknya tak terjangkau bagimu? Harus disadari bahwa apa yang kamu lihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas hidup mereka. Banyak momen hilang, perjuangan yang tidak terlihat, serta kerentanan yang mereka alami. Mengizinkan FOMO mengatur hidupmu hanya akan melahirkan rasa tidak cukup, padahal sebenarnya kamu memiliki banyak hal yang patut disyukuri.
Saat kamu beralih ke JOMO, segala sesuatunya akan terasa lebih ringan. Kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan cinta tidak selalu terletak di keramaian, melainkan dalam kesederhanaan momen-momen yang sering kali terabaikan. Menikmati malam tenang di rumah dengan buku favoritmu atau berbincang dengan orang-orang terkasih bisa menjadi pengalaman yang jauh lebih memuaskan daripada menghadiri pesta yang tidak benar-benar kamu nikmati.
JOMO juga mengajarkan arti pentingnya mengambil waktu untuk dirimu sendiri. Saat kamu berlatih JOMO, kamu akan mulai merasakan ketenangan dan kebebasan dari tekanan sosial. Tidak ada lagi keharusan untuk selalu “ada” dalam setiap kesempatan yang ditawarkan atau cemas karena melewatkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Kamu akan mulai menemukan nilai dalam hal-hal kecil yang sering kali dianggap sepele namun memiliki dampak besar terhadap kebahagiaanmu.
Untuk menerapkan JOMO dalam hidup sehari-hari, langkah awal yang bisa kamu ambil adalah mengurangi ketergantungan pada media sosial. Jika setiap kali membuka aplikasi, kamu merasa kurang berharga atau tertinggal, mungkin sudah saatnya untuk memberikan dirimu waktu rehat dari dunia maya dan lebih fokus pada hidup di dunia nyata.
Belajarlah untuk menikmati momen-momen tertentu tanpa merasa perlu untuk membagikannya dengan orang lain. Tidak setiap pengalaman harus diunggah ke media sosial untuk diakui atau dianggap nyata. Cobalah untuk menghargai waktu yang kamu habiskan sendirian melakukan hal-hal yang kamu cintai, seperti membaca, berjalan-jalan, menulis, atau sekadar menikmati secangkir kopi dengan tenang. Saat kamu bisa menghargai waktu sendiri tanpa merasa kurang, itulah momen di mana kamu telah menguasai seni JOMO.
Selanjutnya, fokuslah pada pengambilan keputusan berdasarkan apa yang benar-benar kamu inginkan, bukan karena tekanan dari orang lain. Saat dihadapkan pada undangan atau tren baru, tanyakan pada dirimu: “Apakah ini sesuatu yang aku inginkan, atau hanya aku merasa harus ikut serta?”. Dengan mempertimbangkan motivasi di balik keputusanmu, kamu bisa lebih selektif dalam memilih kegiatan yang benar-benar berarti bagi dirimu.
Mulailah melatih rasa syukur dengan menyadari bahwa kamu tidak kehilangan apa pun; sebaliknya, kamu sedang memilih jalan yang lebih sesuai dengan kebahagiaanmu. JOMO mengajak kita untuk menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan hidup, dan menjadikan momen-momen tersebut sebagai bagian berharga dari perjalanan kita.