Sumber foto: Canva

Bagaimana Self-Fulfilling Prophecy Bisa Membentuk Nasib?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:03 wib.
Ada pepatah yang bilang, "pikiranmu adalah takdirmu". Pepatah ini terasa sangat relevan dengan sebuah konsep dalam psikologi dan sosiologi yang dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, atau ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya. Ini adalah fenomena di mana keyakinan atau ekspektasi seseorang, entah itu terhadap diri sendiri atau orang lain, tanpa disadari memengaruhi perilaku dan tindakan mereka, yang pada akhirnya membuat keyakinan awal tersebut menjadi kenyataan. Ini bukan sihir atau takhayul, melainkan siklus psikologis yang kuat yang bisa membentuk hidup dan nasib kita, baik ke arah yang positif maupun negatif.

Memahami Mekanisme Self-Fulfilling Prophecy

Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Robert K. Merton pada tahun 1948. Merton menjelaskan bahwa sebuah definisi situasi yang salah—sebuah keyakinan yang tidak benar—dapat memicu serangkaian perilaku yang membuat definisi awal tersebut menjadi benar. Secara sederhana, prosesnya berjalan dalam tiga tahap:

Keyakinan atau Ekspektasi Awal: Seseorang memiliki keyakinan terhadap sesuatu, misalnya, "Aku pasti gagal dalam wawancara kerja ini," atau "Anak itu pasti nakal." Keyakinan ini bisa berasal dari pengalaman masa lalu, masukan dari orang lain, atau prasangka.

Perilaku yang Dipicu oleh Keyakinan: Keyakinan tersebut memengaruhi perilaku. Jika percaya akan gagal dalam wawancara, seseorang mungkin tidak mempersiapkan diri dengan baik, kurang percaya diri saat berbicara, dan menunjukkan sikap gugup. Sebaliknya, jika seorang guru percaya seorang murid itu cerdas, ia mungkin akan lebih sering memberikan perhatian, dorongan, dan kesempatan.

Hasil yang Memvalidasi Keyakinan Awal: Perilaku yang muncul akan menghasilkan sebuah respons atau hasil yang sesuai dengan keyakinan awal. Orang yang gugup saat wawancara kemungkinan besar memang tidak mendapatkan pekerjaan. Murid yang mendapat perhatian lebih dari guru akan termotivasi dan pada akhirnya benar-benar menunjukkan performa yang baik. Hasil ini kemudian memperkuat keyakinan awal, menciptakan siklus yang terus berlanjut.

Pygmalion Effect dan Golem Effect: Contoh Nyata di Kehidupan Sehari-hari

Salah satu contoh paling terkenal dari self-fulfilling prophecy adalah Pygmalion Effect yang ditemukan oleh Rosenthal dan Jacobson. Dalam sebuah eksperimen, guru diberi tahu bahwa beberapa murid di kelasnya memiliki potensi luar biasa (padahal sebenarnya mereka dipilih secara acak). Karena keyakinan ini, para guru secara tidak sadar memberikan perhatian lebih, menantang murid-murid tersebut dengan tugas yang lebih sulit, dan memberikan umpan balik yang lebih positif. Akibatnya, murid-murid tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam hasil tes IQ mereka. Ekspektasi positif dari guru membuat murid-murid itu benar-benar menjadi "pintar".

Kebalikan dari Pygmalion Effect adalah Golem Effect. Ini terjadi ketika ekspektasi negatif menghasilkan performa yang buruk. Jika seorang manajer percaya bahwa seorang karyawan tidak kompeten, manajer itu mungkin akan memberinya tugas yang kurang penting, jarang memberikan bimbingan, atau tidak memberikan kesempatan untuk berkembang. Perlakuan ini dapat membuat karyawan tersebut kehilangan motivasi dan pada akhirnya memang menunjukkan performa yang buruk, seolah memvalidasi keyakinan negatif manajer di awal.

Dampak pada Hubungan dan Kepercayaan Diri

Fenomena ini tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah atau kerja, tapi juga sangat memengaruhi hubungan personal dan kepercayaan diri. Jika seseorang selalu percaya bahwa dirinya tidak pantas dicintai, ia mungkin akan bersikap dingin, menjaga jarak, atau bahkan sengaja menjauhkan diri dari orang lain, yang pada akhirnya membuat ia memang sulit menjalin hubungan. Sebaliknya, orang yang percaya dirinya menarik dan berharga cenderung lebih terbuka, ramah, dan percaya diri, yang membuat ia lebih mudah menarik dan mempertahankan hubungan yang sehat.

Keyakinan negatif yang berakar dalam diri bisa menjadi rintangan terbesar. Pikiran seperti "Aku tidak berbakat," "Aku tidak akan sukses," atau "Tidak ada yang mau berteman denganku," adalah "ramalan" yang bisa kita buat sendiri. Jika terus-menerus diyakini, pikiran-pikiran ini bisa menjadi filter yang membuat kita hanya melihat bukti yang mendukung keyakinan itu, sambil mengabaikan semua bukti yang sebaliknya.

Memutus Siklus Negatif dan Membentuk Nasib Baru

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa memutus siklus negatif dari self-fulfilling prophecy? Kuncinya adalah kesadaran dan tindakan proaktif.


Sadarilah Keyakinan yang Membatasi: Langkah pertama adalah mengidentifikasi keyakinan negatif apa saja yang selama ini kita pegang. Tulislah daftar pikiran-pikiran negatif yang sering muncul. Mengubah pikiran membutuhkan kesadaran akan apa yang sedang kita pikirkan.
Tantang dan Ubah Pikiran: Setelah mengidentifikasi, tantanglah keyakinan itu. Apakah benar-benar ada bukti yang mendukungnya? Apakah ada cara lain untuk melihat situasi? Ganti pikiran negatif dengan afirmasi positif yang realistis. Misalnya, alih-alih "Aku gagal," ubah menjadi "Aku akan berusaha yang terbaik dan belajar dari prosesnya."
Ubah Perilaku secara Bertahap: Mulailah mengambil tindakan kecil yang berbeda dari kebiasaan. Jika takut gagal dalam wawancara, alih-alih pasrah, berusahalah mempersiapkan diri lebih baik. Latihan ini akan mengubah pengalaman dan pada akhirnya memvalidasi keyakinan baru yang lebih positif.
Ciptakan Lingkungan yang Mendukung: Kelilingi diri dengan orang-orang yang memberikan dukungan dan ekspektasi positif. Lingkungan sosial yang suportif bisa membantu kita melihat diri sendiri dari sudut pandang yang lebih baik, yang pada akhirnya memicu Pygmalion Effect dalam kehidupan kita.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved