Apa Itu Invisible Labor dalam Rumah Tangga?
Tanggal: 28 Agu 2025 14:00 wib.
Rumah yang bersih, anak-anak yang terurus, dan makanan yang selalu tersedia adalah hal-hal yang sering kita anggap remeh. Semua hal itu tidak muncul begitu saja. Ada pekerjaan yang terus-menerus dilakukan di baliknya. Namun, sering kali pekerjaan itu tidak terlihat, tidak diakui, dan tidak dihargai. Inilah yang disebut invisible labor atau kerja tak kasat mata. Istilah ini merujuk pada semua tugas mental, emosional, dan manajerial yang diperlukan untuk menjalankan rumah tangga dan keluarga, tetapi jarang dihitung sebagai "pekerjaan" yang sebenarnya.
Lebih dari Sekadar Pekerjaan Fisik
Ketika berbicara tentang pekerjaan rumah tangga, yang terlintas di pikiran biasanya adalah tugas-tugas fisik: mencuci piring, menyapu lantai, memasak, atau mencuci pakaian. Tugas-tugas ini memang nyata dan bisa dilihat hasilnya. Namun, invisible labor jauh lebih dari itu. Ini adalah pekerjaan di balik layar yang membuat semua pekerjaan fisik itu bisa terjadi dengan lancar.
Contoh paling umum dari invisible labor adalah beban mental. Ini adalah tugas untuk selalu memikirkan dan mengingat segala sesuatu yang perlu dilakukan. Mulai dari mengingat jadwal dokter anak, memastikan tagihan listrik dibayar tepat waktu, merencanakan menu makanan mingguan, sampai membeli kado ulang tahun untuk kerabat. Beban mental ini tidak pernah berhenti. Bahkan saat sedang bersantai, pikiran terus bekerja, membuat daftar tugas dan memprioritaskan apa yang harus dikerjakan selanjutnya.
Pekerjaan ini tidak ada jam kerjanya. Beban mental ini bisa sangat melelahkan dan membuat seseorang merasa seperti tidak pernah benar-benar istirahat. Pekerjaan ini tidak menghasilkan keringat atau terlihat kotor, jadi sering kali dianggap bukan "pekerjaan" dan tidak dihargai. Padahal, tanpa beban mental ini, rumah tangga tidak akan berjalan dengan baik.
Beban Emosional dan Tugas Manajerial
Selain beban mental, invisible labor juga mencakup beban emosional. Ini adalah tugas untuk mengelola emosi dan kebutuhan semua anggota keluarga. Contohnya, menjadi penengah saat anak-anak bertengkar, menenangkan pasangan yang sedang stres, atau memastikan setiap orang merasa dicintai dan didukung. Sering kali, pekerjaan ini dilakukan tanpa disadari dan dianggap sebagai "naluri alami."
Ada juga tugas-tugas manajerial yang masuk dalam kategori invisible labor. Mengorganisir liburan keluarga, membuat jadwal piket anak, mencari dan mendaftar kegiatan ekstrakurikuler, serta mengelola anggaran rumah tangga adalah contoh pekerjaan manajerial. Pekerjaan ini memerlukan keterampilan perencanaan, negosiasi, dan eksekusi yang sama seperti pekerjaan di kantor, tetapi dilakukan di rumah tanpa bayaran atau pengakuan.
Secara tradisional, sebagian besar invisible labor ini dibebankan pada perempuan. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan yang signifikan. Perempuan mungkin merasa lelah dan terbebani, sementara pasangan mereka tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ketidakpahaman ini bisa memicu konflik dan rasa frustrasi yang mendalam dalam hubungan. Pasangan yang tidak melakukan invisible labor mungkin merasa sudah adil karena mereka melakukan pekerjaan fisik atau bekerja di luar rumah, tanpa menyadari bahwa ada pekerjaan lain yang jauh lebih banyak dan melelahkan yang mereka lewatkan.
Menciptakan Keseimbangan dan Pengakuan
Mengatasi invisible labor membutuhkan lebih dari sekadar pembagian tugas fisik. Ini memerlukan kesadaran, pengakuan, dan komunikasi yang terbuka dari semua pihak yang terlibat. Langkah pertama adalah mengakui bahwa invisible labor itu nyata. Kedua belah pihak harus duduk bersama dan membuat daftar semua pekerjaan yang perlu dilakukan untuk menjalankan rumah tangga, termasuk tugas-tugas mental dan emosional yang sering terlupakan.
Setelah daftar dibuat, langkah selanjutnya adalah membaginya secara adil. Ini tidak harus selalu 50/50, tetapi harus adil dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Misalnya, satu orang bisa bertanggung jawab penuh untuk merencanakan dan membeli kebutuhan harian, sementara yang lain bertanggung jawab untuk mengurus semua administrasi keuangan. Dengan demikian, beban mental tidak lagi hanya ditanggung oleh satu orang.
Penting juga untuk menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan, baik itu yang terlihat maupun tidak. Mengucapkan terima kasih atau sekadar mengakui pekerjaan yang telah dilakukan bisa sangat berarti dan membuat seseorang merasa dihargai. Mengakui bahwa pasangan telah melakukan pekerjaan mental yang melelahkan sama pentingnya dengan mengakui mereka telah membersihkan seluruh rumah.