Sumber foto: Canva

Apa Itu Greenwashing dalam Dunia Bisnis dan Marketing?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:05 wib.
Isu lingkungan kini menjadi perhatian global. Konsumen semakin sadar akan dampak produk dan layanan terhadap bumi, membuat mereka beralih ke merek-merek yang dianggap ramah lingkungan. Kesadaran ini menciptakan peluang bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan. Namun, tidak semua klaim itu jujur. Banyak perusahaan menggunakan strategi greenwashing, sebuah taktik pemasaran yang menyesatkan, untuk membuat produk atau praktik mereka terlihat lebih hijau dari kenyataannya.

Memahami Definisi Greenwashing

Secara sederhana, greenwashing adalah praktik di mana sebuah perusahaan memberikan kesan palsu atau menyesatkan bahwa produk, layanan, atau keseluruhan operasi mereka lebih ramah lingkungan daripada yang sebenarnya. Tujuannya adalah untuk menarik konsumen yang peduli lingkungan dan membangun citra merek yang positif, tanpa melakukan perubahan substansial pada proses produksi atau rantai pasok mereka.

Istilah ini pertama kali diciptakan oleh Jay Westerveld pada tahun 1986, ketika ia mengkritik praktik hotel yang meminta tamu untuk menggunakan kembali handuk dengan dalih "menyelamatkan lingkungan", padahal motivasi utamanya adalah penghematan biaya. Sejak itu, greenwashing telah berkembang menjadi taktik yang jauh lebih canggih, menggunakan jargon yang ambigu, gambar alam yang indah, dan klaim yang tidak dapat diverifikasi untuk menipu konsumen.

Ciri-ciri dan Taktik Greenwashing

Mengenali greenwashing tidak selalu mudah, karena seringkali disamarkan dengan baik. Namun, ada beberapa ciri umum yang bisa kita waspadai:

Klaim yang Samar dan Ambigu: Perusahaan sering menggunakan kata-kata seperti "alami," "ramah lingkungan," atau "hijau" tanpa memberikan detail atau bukti konkret. Apa yang dimaksud dengan "alami"? Apakah bahan-bahannya 100% alami atau hanya sebagian kecil saja? Ketiadaan informasi yang jelas adalah tanda bahaya.

Bukti yang Tersembunyi: Sebuah produk mungkin mengklaim "dibuat dengan bahan daur ulang," tapi tidak menyebutkan berapa persen dari bahan tersebut yang benar-benar didaur ulang. Atau, perusahaan hanya menyoroti satu aspek kecil dari produknya yang ramah lingkungan, sementara proses produksinya secara keseluruhan sangat merusak. Ini adalah taktik trade-off tersembunyi, di mana mereka menyembunyikan sisi negatif yang lebih besar.

Klaim yang Tidak Relevan: Perusahaan mungkin mengiklankan produknya bebas CFC (senyawa yang merusak ozon), padahal penggunaan CFC sudah dilarang secara hukum bertahun-tahun yang lalu. Klaim semacam ini tidak relevan dan hanya untuk mengesankan konsumen bahwa produk itu "hijau".

Sertifikasi Palsu atau Tidak Kredibel: Beberapa produk mencantumkan logo "ramah lingkungan" yang tidak dikenal atau dibuat sendiri. Konsumen harus jeli membedakan antara sertifikasi independen yang kredibel (seperti USDA Organic atau Rainforest Alliance) dengan logo buatan perusahaan sendiri.

Pencitraan Visual yang Menyesatkan: Penggunaan warna hijau, gambar daun, pohon, atau pemandangan alam yang indah dalam kemasan atau iklan seringkali tidak ada hubungannya dengan produk itu sendiri. Taktik ini hanya bertujuan untuk membangkitkan asosiasi emosional dengan lingkungan.

Dampak Negatif dari Greenwashing

Praktik greenwashing tidak hanya merugikan konsumen, tapi juga punya dampak yang lebih luas:

Hilangnya Kepercayaan Konsumen: Ketika konsumen menyadari bahwa klaim sebuah merek tidak jujur, mereka akan kehilangan kepercayaan tidak hanya pada merek tersebut, tapi juga pada klaim keberlanjutan merek lain secara umum. Ini bisa membuat upaya nyata dari perusahaan yang benar-benar berkomitmen menjadi sulit dipercaya.

Menghambat Perubahan Nyata: Greenwashing memungkinkan perusahaan menghindari investasi mahal dalam teknologi atau proses yang benar-benar berkelanjutan. Mereka bisa mendapatkan keuntungan dari citra "hijau" tanpa harus menanggung biaya untuk menjadi benar-benar ramah lingkungan.

Menciptakan Kebingungan di Pasar: Konsumen yang ingin membuat pilihan yang bertanggung jawab menjadi bingung karena banjirnya klaim yang tidak jujur. Ini menyulitkan mereka untuk mendukung perusahaan yang benar-benar berupaya keras untuk keberlanjutan.

Cara Mengidentifikasi dan Melawan Greenwashing

Sebagai konsumen yang cerdas, kita punya kekuatan untuk melawan greenwashing. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:


Cari Bukti Konkret: Jangan mudah percaya pada klaim yang samar. Cari tahu detailnya. Jika sebuah produk mengklaim "ramah lingkungan," cari tahu apa yang membuat ia demikian. Apakah ada laporan keberlanjutan yang bisa diakses publik?
Lihat Seluruh Rantai Pasok: Sebuah produk bisa saja dibuat dari bahan daur ulang, tapi bagaimana dengan kemasan plastiknya? Atau bagaimana dengan energi yang digunakan dalam proses produksinya? Pikirkan seluruh siklus hidup produk.
Periksa Sertifikasi: Cari tahu apakah logo sertifikasi yang dicantumkan berasal dari organisasi independen dan terpercaya. Lakukan riset singkat di internet untuk memverifikasi kredibilitasnya.
Tanyakan dan Tuntut Transparansi: Jangan ragu untuk bertanya kepada perusahaan melalui media sosial atau email. Tanyakan data dan bukti di balik klaim mereka. Semakin banyak konsumen yang menuntut transparansi, semakin besar tekanan bagi perusahaan untuk jujur.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved