Sumber foto: Canva

Apa Itu Broken Heart Syndrome Secara Medis?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:41 wib.
Frasa broken heart syndrome seringkali kita dengar dalam lagu atau film, menggambarkan perasaan sedih yang teramat sangat akibat patah hati. Namun, tahukah kalau kondisi ini ternyata ada dalam dunia medis dan bisa memengaruhi fisik, khususnya jantung? Secara ilmiah, kondisi ini dikenal sebagai kardiomiopati takotsubo atau kardiomiopati yang diinduksi stres. Ini adalah kondisi nyata yang bisa menyerupai serangan jantung dan dipicu oleh stres emosional atau fisik yang ekstrem.

Ketika Hati Benar-Benar "Patah"

Kardiomiopati takotsubo pertama kali diidentifikasi di Jepang pada tahun 1990-an. Namanya diambil dari kata takotsubo, yaitu jebakan gurita tradisional Jepang yang bentuknya menyerupai labu dengan leher sempit. Bentuk ini persis seperti yang terlihat pada ventrikel kiri jantung (ruang pompa utama) saat terkena sindrom ini.

Saat seseorang mengalami stres yang sangat hebat—entah itu karena berita duka, putus cinta, kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau bahkan kejutan yang menyenangkan tapi intens—tubuh akan memproduksi hormon stres dalam jumlah besar, seperti adrenalin dan kortisol. Lonjakan hormon ini dipercaya bisa "melumpuhkan" sebagian otot jantung. Akibatnya, ventrikel kiri jantung jadi melemah dan berubah bentuk, sehingga tidak bisa memompa darah dengan efektif. Bagian bawah jantung akan mengembang, sementara bagian atasnya menyempit, menciptakan bentuk mirip jebakan gurita itu.

Hebatnya, kondisi ini bisa terjadi pada orang yang sehat, yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya. Ini bukan serangan jantung biasa. Pada serangan jantung normal, ada sumbatan di pembuluh darah jantung yang menghentikan aliran darah, menyebabkan kerusakan permanen pada otot jantung. Sedangkan pada broken heart syndrome, tidak ada sumbatan. Kerusakan pada jantung bersifat sementara dan biasanya bisa pulih.

Gejala yang Mirip Serangan Jantung

Gejala broken heart syndrome sangat mirip dengan serangan jantung, yang membuat penderitanya sering salah diagnosis di awal. Gejala yang paling umum adalah:

Nyeri dada parah: Rasa sakit yang tiba-tiba dan menusuk di area dada.

Sesak napas: Merasa kesulitan bernapas atau napas terasa berat.

Beberapa gejala lain bisa termasuk pusing, mual, dan detak jantung yang tidak teratur. Karena kemiripan gejala ini, orang yang mengalami sindrom ini harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Tim medis akan melakukan berbagai tes, seperti elektrokardiogram (EKG), tes darah, dan angiogram koroner (prosedur untuk melihat pembuluh darah jantung). Hasil angiogram akan menunjukkan pembuluh darah yang bersih tanpa sumbatan, membedakannya dari serangan jantung.

Siapa yang Berisiko dan Bagaimana Penanganannya?

Meskipun bisa terjadi pada siapa saja, sindrom ini paling sering menyerang perempuan pascamenopause. Para ahli meyakini ada kaitan dengan penurunan hormon estrogen setelah menopause, yang mungkin membuat jantung lebih rentan terhadap dampak hormon stres.

Penanganan untuk kardiomiopati takotsubo biasanya bersifat suportif. Karena kondisi ini biasanya sementara, pasien dirawat di rumah sakit untuk memantau kondisi jantung dan diberi obat-obatan untuk mendukung fungsi jantung, seperti beta-blocker atau ACE inhibitor. Pengobatan ini bertujuan untuk mengurangi beban kerja jantung dan mencegah masalah lebih lanjut. Sebagian besar pasien bisa pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu hingga sebulan, tanpa ada efek jangka panjang pada fungsi jantung.

Yang terpenting dalam penanganan adalah mengelola pemicu stres. Begitu kondisi fisik stabil, penderita perlu mencari cara untuk mengatasi stres emosional atau fisik yang memicu sindrom ini. Bisa dengan terapi, konseling, atau aktivitas yang menenangkan seperti meditasi, yoga, atau olahraga ringan. Mencegah pemicu stres di masa depan adalah kunci untuk menghindari kambuhnya sindrom ini. Broken heart syndrome adalah pengingat nyata bahwa ada kaitan erat antara kesehatan mental dan fisik. Emosi dan stres yang kita rasakan bukan hanya masalah di kepala; mereka memiliki dampak nyata pada tubuh. Menjaga kesehatan emosional sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved