Sumber foto: Canva

Altruism Fatigue dan Mengapa Bisa Terjadi?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:08 wib.
Mulai dari bencana alam, kelaparan, kemiskinan, hingga konflik bersenjata, setiap hari kita dibanjiri permintaan untuk berempati dan bertindak. Namun, ada satu fenomena psikologis yang sering kali muncul sebagai respons terhadap bombardir ini: altruism fatigue. Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa lelah secara emosional atau bahkan mati rasa akibat paparan konstan terhadap penderitaan orang lain, yang pada akhirnya mengurangi kemauan atau kemampuan untuk membantu.

Perasaan Terbebani dan Kelelahan Emosional

Altruism fatigue tidak sama dengan kelelahan biasa. Ini adalah jenis kelelahan yang spesifik, yang berakar pada kelelahan emosional dan mental yang muncul dari rasa empati yang berlebihan dan terus-menerus. Ketika kita melihat berita tentang anak-anak kelaparan di belahan dunia lain, korban bencana yang kehilangan segalanya, atau individu yang menderita, otak kita secara alami memproses informasi ini. Empati yang kita rasakan memicu respons emosional, seperti sedih, cemas, atau marah. Namun, jika paparan ini tidak ada hentinya, sistem emosional kita bisa kewalahan.

Respons yang berlebihan ini bisa memicu perasaan terbebani, seolah-olah seluruh beban penderitaan dunia ada di pundak kita. Kondisi ini membuat kita merasa tidak berdaya, karena masalah yang disajikan terasa begitu besar dan kompleks, melampaui kemampuan individu untuk menyelesaikannya. Perasaan tidak berdaya ini, jika berlanjut, bisa berujung pada depresi atau apatis. Kita mulai menjauhkan diri dari berita atau cerita yang menyedihkan, bukan karena kita tidak peduli, melainkan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk melindungi kesehatan mental kita dari rasa sakit yang tak terkelola.

Jenuhnya Diri Akibat Compassion Overload

Salah satu penyebab utama altruism fatigue adalah compassion overload atau kelebihan beban kasih sayang. Otak kita tidak dirancang untuk terus-menerus berempati pada skala global. Awalnya, kita mungkin tergerak untuk berdonasi, menjadi sukarelawan, atau menyebarkan kesadaran. Namun, ketika satu krisis belum selesai, krisis baru sudah muncul, dan yang lainnya menyusul. Penderitaan dari berbagai sumber—mulai dari konflik di Timur Tengah, kelaparan di Afrika, hingga masalah kesehatan mental di lingkungan terdekat—menumpuk dalam pikiran kita.

Penumpukan informasi negatif ini dapat mematikan respons empati kita. Mekanisme pertahanan diri akan mengambil alih, dan kita mulai membangun benteng psikologis. Kita mungkin mulai merasa kebal terhadap berita tragis, atau bahkan menganggapnya sebagai hal biasa. Akibatnya, kita menjadi kurang responsif, tidak lagi merasa tergerak untuk membantu, dan pada akhirnya, merasa bersalah karena tidak lagi peduli seperti dulu. Ini adalah ironi dari altruism fatigue: keinginan untuk membantu yang begitu besar pada awalnya justru bisa berujung pada ketidakmampuan untuk membantu sama sekali.

Peran Media Digital dalam Memperburuk Kondisi

Di era media sosial, algoritma dan feed yang konstan memainkan peran besar dalam memperburuk altruism fatigue. Platform digital terus-menerus menyajikan konten yang memicu emosi, termasuk berita-berita tragis atau kampanye penggalangan dana yang mendesak. Sering kali, konten-konten ini ditampilkan dengan visual yang sangat kuat dan narasi yang emosional untuk memicu respons cepat dari pengguna.

Paparan yang berlebihan dan tanpa henti ini, tanpa ada jeda untuk memproses emosi, bisa membanjiri kita. Berbeda dengan koran atau berita televisi di masa lalu yang disajikan dalam durasi terbatas, media sosial membuat kita bisa terus-menerus terpapar penderitaan tanpa henti. Setiap kali membuka gawai, ada lagi kisah tragis yang menunggu. Kondisi ini membuat kita sulit untuk menjauh dan memulihkan diri, karena dunia digital terus-menerus mengingatkan kita tentang penderitaan yang ada.

Cara Mengelola dan Mengatasinya

Mengatasi altruism fatigue bukan berarti menjadi apatis, melainkan tentang mengelola empati kita secara bijaksana. Ini adalah tentang belajar untuk berempati tanpa membiarkan diri terbakar habis. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:


Batasi Paparan Informasi: Cobalah untuk membatasi waktu yang dihabiskan untuk membaca berita atau media sosial. Pilih sumber informasi yang kredibel dan hindari paparan konstan dari konten yang memicu emosi.
Fokus pada Aksi Lokal: Daripada merasa tidak berdaya karena masalah global yang terlalu besar, alihkan fokus pada masalah yang bisa diselesaikan di lingkungan terdekat. Membantu tetangga yang kesulitan, menjadi sukarelawan di panti asuhan lokal, atau berdonasi pada komunitas terdekat bisa memberikan rasa pencapaian dan mengembalikan energi.
Latih Diri untuk Istirahat: Berikan waktu untuk diri sendiri. Lakukan hal-hal yang disukai, seperti hobi, olahraga, atau meditasi, untuk memulihkan energi mental dan emosional.
Tentukan Batasan Jelas: Belajar untuk mengatakan "tidak" pada permintaan yang terlalu menguras energi. Tidak semua orang bisa menjadi penyelamat, dan itu tidak apa-apa.
Lakukan Satu Hal dengan Baik: Daripada mencoba membantu semua orang, fokuslah pada satu atau dua isu yang paling terhubung dengan diri. Berikan waktu dan sumber daya yang dimiliki untuk hal itu.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved