Sumber foto: Google

Tren Menguat, Harga Perak Antam Hari Ini Naik Rp 500 Berlawanan dengan Pasar Global

Tanggal: 2 Okt 2026 16:24 wib.
JAKARTA – Perkembangan pasar logam mulia tanah air kembali mencatatkan pergerakan positif pada pertengahan pekan ini. Harga perak Antam hari ini, Rabu (30/9/2026), terpantau melaju di zona hijau dengan mencatatkan kenaikan sebesar Rp 500 per gram. Penguatan harga perak produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ini berjalan seirama dengan tren kenaikan harga emas murni dalam negeri, meskipun berbanding terbalik dengan kondisi perak di pasar internasional yang sedang tertekan.Berdasarkan pembaruan resmi dari laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini berada di level Rp 41.300 per gram. Nilai tersebut mengalami peningkatan dari posisi perdagangan hari sebelumnya yang bertengger di angka Rp 40.800 per gram.PT Aneka Tambang Tbk menyediakan berbagai jenis komoditas perak untuk memenuhi kebutuhan investasi maupun industri masyarakat. Di antaranya adalah perak batangan dengan pecahan 250 gram yang dibanderol seharga Rp 10.850.000, serta ukuran 500 gram yang dipatok pada harga Rp 20.775.000. Selain bentuk batangan, BUMN tambang ini juga menjajakan perak butiran murni (granule) dengan kadar kemurnian mencapai 99,95 persen.Dinamika Pasar Global dan Sentimen PenekanDi saat harga perak Antam hari ini menunjukkan performa yang solid, dinamika berbeda justru terjadi pada harga perak dunia. Berdasarkan data dari Trading Economics, komoditas perak internasional tergelincir sebesar 0,67 persen hingga menyentuh level US$ 61,04 per ons.Fluktuasi harga perak di pasar global yang bertahan di kisaran US$ 61 per ons dipengaruhi oleh sejumlah faktor makroekonomi yang cukup kompleks. Salah satu penahan laju penurunan lebih dalam adalah melandainya harga minyak mentah dunia. Penurunan harga minyak tersebut dipicu oleh membaiknya jalur pasokan energi di kawasan Timur Tengah, serta kebijakan Pelepasan Cadangan Minyak Darurat (SPR) dalam skala besar oleh pemerintah Amerika Serikat.Namun demikian, tekanan terhadap komoditas komoditas logam mulia seperti perak dan emas belum sepenuhnya mereda. Meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) menjadi beban utama yang menahan laju penguatan pasar. Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat menembus angka 5,62 persen, yang merupakan level tertinggi sejak Juni 2002.Tingginya imbal hasil pasar obligasi ini digerakkan oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi lonjakan inflasi yang dipicu oleh fluktuasi harga energi. Kondisi ini diperparah oleh sinyal tegas (hawkish) dari para pejabat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga acuan secara berlanjut hingga akhir tahun masih sangat mungkin dilakukan. Ia menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi variabel penting yang terus mendorong angka inflasi tetap tinggi. Akibat tekanan tersebut, secara akumulatif harga perak di pasar dunia diperkirakan mencatatkan penurunan hampir 8 persen sepanjang bulan September.Koreksi Harga Emas dan Penguatan Dolar ASPergerakan harga perak internasional tidak lepas dari bayang-bayang pasar emas murni global. Harga emas spot sempat menguat 1,1 persen menjadi US$ 4.157,39 per ons, setelah sebelumnya sempat merosot ke level terendah dalam kurun waktu lebih dari tujuh minggu.Senior Metals Strategist dari Zaner Metals, Peter Grant, menilai bahwa kenaikan harga logam mulia pada pertengahan pekan ini cenderung bersifat koreksi teknikal sementara. Menurutnya, potensi kenaikan lanjutan bagi aset seperti emas dan perak masih akan menemui rintangan berat selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap mendominasi pasar.Penguatan mata uang Dolar AS turut menjadi penekan utama bagi instrumen perak global. Ketika Dolar AS menguat, harga komoditas yang ditransaksikan dalam mata uang tersebut menjadi jauh lebih mahal bagi para pembeli atau investor yang menggunakan mata uang lain. Di saat yang sama, tingginya yield obligasi Treasury mengikis daya tarik aset non-imbal hasil (non-yielding assets) seperti emas dan perak, karena investor cenderung beralih ke instrumen pasar uang yang menawarkan yield lebih pasti.Berdasarkan kalkulasi FedWatch Tool milik CME Group, para pelaku pasar saat ini memprediksikan probabilitas sebesar 70 persen bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, serta peluang hingga 95 persen untuk kenaikan lanjutan pada Desember.Kini, para pelaku pasar dan investor domestik maupun global tetap mencermati rilis data ekonomi penting Amerika Serikat, seperti data tenaga kerja ADP, indeks konsumsi pribadi (PCE), hingga data non-farm payrolls, yang diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan harga perak maupun komoditas logam mulia lainnya dalam beberapa waktu ke depan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved