Sumber foto: Kompas.com

Rupiah Melemah Mendekati Krisis 1998, Pemerintah Tetap Optimistis

Tanggal: 27 Mar 2025 12:43 wib.
Tampang.com | Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan mendekati level terendah seperti saat krisis moneter 1998. Pada Selasa (25/3/2025), rupiah ditutup pada level Rp 16.611 per dolar AS, melemah 0,27 persen dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Meskipun demikian, pemerintah tetap optimistis bahwa pelemahan ini tidak akan berdampak besar seperti krisis 1998. Sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan kestabilan, dan langkah-langkah intervensi telah disiapkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.

Faktor Eksternal:



Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas, dengan adanya ancaman perang dari AS.


Kebijakan tarif impor tambahan dari AS yang akan diberlakukan pada 2 April 2025, sehingga membebani pasar global.



Faktor Internal:



Aliran dana asing keluar dari Indonesia, terutama setelah pengumuman susunan pengurus Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.


Pasar menilai bahwa intervensi pemerintah dalam pasar modal terlalu besar, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi investor.



Rupiah Hampir Menyamai Level Krisis 1998

Berdasarkan catatan Harian Kompas, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 16.900 per dolar AS pada 17 Juni 1998 dan mencapai Rp 17.000 per dolar AS pada 22 Januari 1998.

Saat ini, meskipun nilai tukar rupiah kembali melemah ke atas Rp 16.000 per dolar AS, kondisinya berbeda dengan krisis 1998. Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M. Juhro, menjelaskan bahwa pada 1998, rupiah anjlok secara drastis dalam waktu singkat dari di bawah Rp 10.000 langsung ke Rp 16.000 per dolar AS.

Sementara itu, pelemahan rupiah saat ini terjadi secara bertahap dan masih dalam batas wajar.

Pemerintah dan BI Tetap Optimistis

Menanggapi pelemahan rupiah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.

"Ya kan ini harian kan, nanti kita lihat. Fundamental ekonomi kita kuat, pasar juga sudah rebound," ujar Airlangga.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan pemulihan setelah sempat turun ke level 5.900 pada Senin (25/3/2025). Selain itu, Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Solikin, meskipun nilai tukar rupiah melemah, Indonesia memiliki cadangan devisa yang jauh lebih kuat dibandingkan 1998. Saat itu, cadangan devisa hanya 20 miliar dolar AS, sedangkan sekarang mencapai 154,5 miliar dolar AS.

Indikator Ekonomi Masih Stabil

Dibandingkan dengan krisis 1998, ekonomi Indonesia saat ini lebih terkendali. Beberapa indikator ekonomi menunjukkan bahwa Indonesia masih dalam kondisi yang cukup baik:



Pertumbuhan ekonomi (PDB) 2024: 5,02 persen (lebih tinggi dari Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan).


Inflasi 2024: 1,57 persen, lebih rendah dibandingkan 2023 (2,81 persen) dan lebih baik dibandingkan India (5,22 persen) serta Filipina (2,90 persen).


Rasio utang luar negeri (ULN): 30,43 persen dari PDB, masih dalam batas aman.


Rasio kredit macet (NPL): 2,08 persen, menunjukkan sektor perbankan masih stabil.



Dengan angka-angka ini, BI dan pemerintah yakin bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih kokoh dan jauh dari krisis 1998.

Kesimpulan

Pelemahan rupiah memang mendekati level saat krisis moneter 1998, tetapi kondisinya berbeda. Saat ini, pelemahan terjadi secara bertahap, bukan anjlok dalam waktu singkat seperti pada 1998.

Pemerintah dan BI tetap optimistis, karena fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Cadangan devisa, stabilitas sektor keuangan, dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Ke depan, intervensi pemerintah dan kebijakan BI akan terus dilakukan untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak semakin melemah.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved