Sumber foto: Canva

Kenapa Bitcoin Disebut ‘Emas Digital’?

Tanggal: 25 Agu 2025 21:49 wib.
 Bitcoin seringkali disebut sebagai 'emas digital'. Sebutan ini bukan sekadar julukan kosong, melainkan cerminan dari karakteristik fundamental yang membuat aset kripto ini memiliki nilai yang serupa dengan emas. Sejak kemunculannya, Bitcoin telah menarik perhatian karena kemampuannya berfungsi sebagai penyimpan nilai dan aset lindung nilai, sama seperti emas yang telah dipercaya ribuan tahun. Untuk memahami analogi ini, kita perlu melihat lebih dekat bagaimana Bitcoin mereplikasi sifat-sifat langka dan berharga dari emas dalam ranah digital.

Kelangkaan dan Pasokan yang Terbatas

Salah satu alasan utama mengapa Bitcoin dijuluki emas digital adalah kelangkaannya yang terprogram. Sama seperti pasokan emas yang terbatas di perut bumi, jumlah total Bitcoin yang bisa ada di dunia juga dibatasi. Menurut protokolnya, hanya ada 21 juta Bitcoin yang akan pernah diciptakan. Kelangkaan buatan ini adalah fondasi dari nilainya. Begitu seluruh 21 juta Bitcoin ditambang, tidak ada lagi Bitcoin baru yang akan masuk ke pasar. Ini sangat kontras dengan mata uang fiat (seperti Rupiah atau Dolar) yang bisa dicetak oleh bank sentral tanpa batas, yang berpotensi menyebabkan inflasi. Sifat deflasi ini membuat Bitcoin menarik sebagai aset yang nilainya diharapkan akan terus meningkat seiring waktu, terutama seiring dengan meningkatnya permintaan.

Sifat kelangkaan ini diperkuat oleh mekanisme halving, sebuah peristiwa yang terjadi kira-kira setiap empat tahun sekali di mana imbalan untuk penambang Bitcoin berkurang setengah. Halving ini memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru dan secara efektif meningkatkan kelangkaannya dari waktu ke waktu. Proses ini sangat mirip dengan penambangan emas yang semakin sulit dan mahal seiring dengan semakin langkanya cadangan emas yang mudah diakses.

Daya Tahan dan Tahan Banting

Emas dikenal karena daya tahannya yang luar biasa. Logam ini tidak berkarat, tidak luntur, dan bisa bertahan selama ribuan tahun tanpa kehilangan nilainya. Di dunia digital, Bitcoin memiliki sifat serupa. Jaringan Bitcoin beroperasi menggunakan teknologi blockchain yang sangat tangguh dan terdesentralisasi. Transaksi dicatat di ribuan komputer di seluruh dunia (disebut node). Ini membuat jaringan Bitcoin sangat sulit untuk diretas atau dimanipulasi.

Tidak ada satu entitas pun, entah itu pemerintah atau perusahaan, yang bisa mengendalikan atau mengubah aturan main Bitcoin. Sifat desentralisasi ini membuat Bitcoin tahan terhadap penyitaan atau campur tangan politik. Aset digital ini tidak bisa dibekukan, disensor, atau dicetak ulang oleh otoritas mana pun. Dalam situasi krisis ekonomi atau ketidakstabilan politik, di mana mata uang lokal bisa terdevaluasi, Bitcoin menawarkan alternatif yang aman dan tidak terpengaruh oleh kebijakan suatu negara.

Portabilitas dan Kemudahan Transfer

Meskipun emas adalah aset yang berharga, portabilitasnya sangat terbatas. Membawa emas fisik dalam jumlah besar sangat tidak praktis, berisiko, dan mahal. Memindahkannya melintasi perbatasan juga bisa melibatkan birokrasi yang rumit dan pajak. Bitcoin menyelesaikan masalah ini.

Sebagai aset digital, Bitcoin sangat portabel. Seseorang bisa memiliki jutaan dolar Bitcoin yang disimpan di ponsel atau perangkat keras sekecil USB, dan membawanya kemana saja di seluruh dunia. Transfer Bitcoin dari satu orang ke orang lain, bahkan melintasi benua, bisa dilakukan dalam hitungan menit dengan biaya yang relatif rendah, tanpa perlu izin dari pihak ketiga seperti bank atau lembaga keuangan. Kemudahan transfer ini menjadikannya pilihan yang sangat efisien untuk transaksi internasional atau menyimpan kekayaan secara pribadi.

Lindung Nilai dari Inflasi dan Gejolak Ekonomi

Sejak dulu, emas telah digunakan sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Saat mata uang fiat kehilangan nilainya karena inflasi, harga emas cenderung naik. Ini karena pasokan emas tetap stabil sementara jumlah uang beredar terus bertambah. Bitcoin berperan dengan cara yang sama. Dengan pasokan yang terbatas dan tidak bisa dimanipulasi, banyak investor melihat Bitcoin sebagai aset yang ideal untuk melindungi kekayaan mereka dari dampak inflasi.

Banyak yang berpendapat bahwa Bitcoin lebih unggul dari emas dalam hal ini. Sementara harga emas bisa dipengaruhi oleh pasar komoditas dan industri perhiasan, nilai Bitcoin murni didorong oleh adopsi, kelangkaan, dan sentimen pasar global. Sifatnya yang terdesentralisasi juga menjadikannya aset yang tidak berkorelasi dengan pasar saham tradisional, menjadikannya pilihan diversifikasi yang menarik di tengah gejolak ekonomi.

Bitcoin sebagai Penyimpan Nilai Jangka Panjang

Julukan 'emas digital' diberikan kepada Bitcoin karena ia mewarisi peran emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Keduanya adalah aset yang tidak menghasilkan pendapatan, namun nilainya berasal dari keyakinan kolektif akan kelangkaan dan daya tahannya. Emas telah mempertahankan nilainya selama ribuan tahun, dan Bitcoin, meski masih relatif muda, telah menunjukkan potensi yang sama dalam dekade terakhir.

Investor jangka panjang, atau yang dikenal sebagai 'hodlers', menyimpan Bitcoin bukan untuk transaksi sehari-hari, melainkan sebagai investasi jangka panjang yang diharapkan akan tumbuh seiring dengan adopsi teknologi dan kesadaran masyarakat akan keunggulannya dibanding sistem keuangan tradisional. 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved