Daya Beli Masyarakat Tertekan Jelang Lebaran 2025, CORE Indonesia Ungkap Anomali Konsumsi
Tanggal: 30 Mar 2025 12:25 wib.
Tampang.com | Menjelang Lebaran 2025, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah semakin terhimpit. Laporan terbaru dari CORE Indonesia berjudul Awas Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025 menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat tidak mengalami peningkatan seperti biasanya. Bahkan, hingga pekan ketiga Ramadan, konsumsi rumah tangga masih lesu, menandakan adanya tekanan ekonomi yang semakin kuat.
Kelesuan Konsumsi Jelang Lebaran: Fenomena Tak Biasa
Biasanya, menjelang Ramadan dan Lebaran, aktivitas belanja masyarakat meningkat tajam, terutama untuk kebutuhan pokok dan konsumsi rumah tangga. Namun, tahun ini terjadi anomali di mana masyarakat justru menahan belanja mereka. CORE Indonesia menyebut fenomena ini sebagai indikasi adanya ketidakberesan dalam ekonomi domestik.
Tanda-Tanda Pelemahan Daya Beli Masyarakat
Berikut beberapa indikator yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat mengalami tekanan signifikan:
1. Terjadinya Deflasi di Awal Tahun
Deflasi yang terjadi pada Februari 2025 menjadi sinyal utama pelemahan konsumsi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami penurunan sebesar:
0,09 persen secara tahunan
0,48 persen secara bulanan
1,24 persen secara year to date
Deflasi ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk turunnya harga makanan, minuman, dan tembakau—padahal biasanya sektor ini mengalami inflasi menjelang Ramadan.
2. Indeks Penjualan Riil Merosot
Data dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Februari 2025 turun 0,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi pada sektor makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kontraksi hingga 1,7 persen.
CORE Indonesia mencatat bahwa sejak 2017, pertumbuhan IPR stagnan di bawah 5 persen, yang menandakan adanya tekanan terhadap konsumsi rumah tangga dalam jangka panjang.
3. Penurunan Transaksi Belanja
Melemahnya daya beli juga tercermin dari turunnya transaksi belanja menggunakan ATM, debit, dan kartu kredit. BI mencatat bahwa pertumbuhan transaksi belanja dengan ATM dan debit pada 2024 mengalami kontraksi sebesar 4 persen, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 8 persen pada 2023.
Selain itu, transaksi belanja menggunakan kartu kredit yang biasanya dilakukan oleh masyarakat kelas menengah atas hanya tumbuh 8 persen pada 2024, dibandingkan 26 persen pada 2023.
4. Impor Bahan Konsumsi Turun Drastis
Data BPS juga menunjukkan bahwa impor barang konsumsi pada Februari 2025 mengalami penurunan hingga 10,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini menandakan bahwa permintaan terhadap barang konsumsi dari luar negeri juga melemah.
5. Jumlah Pemudik Berkurang Signifikan
Survei Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik Lebaran 2025 hanya mencapai 146,48 juta orang, turun 24 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 193,6 juta. Penurunan jumlah pemudik ini mengindikasikan banyak masyarakat yang mengurangi pengeluaran mereka, bahkan untuk kebutuhan mudik yang biasanya menjadi prioritas.
Kesimpulan: Daya Beli Masyarakat Semakin Tertekan
CORE Indonesia menegaskan bahwa berbagai indikator ini menguatkan dugaan bahwa daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, mengalami pelemahan yang signifikan. Fenomena ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan pelaku ekonomi untuk segera mengambil langkah-langkah strategis guna mengatasi tekanan terhadap konsumsi rumah tangga.