BUMI PASAR SAHAM MELEDAK: IHSG Diprediksi Tembus 9.700 di 2026, Siap-siap Ledakan Kapital!
Tanggal: 13 Jan 2026 12:50 wib.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia kini berada di persimpangan penting. Meski dalam perdagangan harian sempat melemah, ada proyeksi luar biasa dari analis global yang mengatakan IHSG bisa mencapai level hampir 9.700 pada tahun 2026 sebuah target yang membuat pelaku pasar tercengang dan memacu spekulasi besar di kalangan investor domestik maupun asing.
Pandangan optimistis ini disampaikan oleh Herald van der Linde, Head of Equity Strategy Asia Pacific di HSBC Global Research, dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026. Menurutnya, pasar saham Indonesia masih menyimpan ruang kenaikan yang signifikan, terutama jika sejumlah kondisi fundamental membaik dalam waktu dekat.
1. Kenapa Para Analis “Berani” Pasang Target 9.700?
Target bullish untuk IHSG tersebut bukan sekadar angka. Herald mengungkapkan beberapa faktor yang mendasari prediksi ini:
a. Valuasi Saham Indonesia Masih Rendah
Herald melihat valuasi saham di pasar modal Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan pasar berkembang lain maupun pasar saham AS yang sudah sangat tinggi valuasinya. Kondisi ini dianggap menarik oleh banyak investor global yang mencari peluang keuntungan jangka panjang.
b. Ruang Masuknya Investor Asing
Saat ini kepemilikan investor asing di saham Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan 15–20 tahun terakhir. Hal ini menciptakan potensi aliran modal besar ke dalam negeri jika sentimen global kembali positif.
c. Peluang Pemulihan Laba Emiten
Kunci lain dari proyeksi kuat ini adalah harapan terhadap earnings recovery atau pemulihan kinerja laba perusahaan yang diperkirakan akan mendorong harga saham. Sektor perbankan dan konsumsi menjadi sorotan utama karena valuasi keduanya saat ini masih murah.
2. Pergerakan IHSG di Tengah Bullish yang Belum Stabil
Meskipun target 9.700 memicu euforia, pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih fluktuatif. Pada perdagangan terbaru, IHSG justru sempat turun dan ditutup di level sekitar 8.884,72 poin, setelah sebelumnya sempat menyentuh angka lebih dari 9.000 dalam sesi perdagangan.
Penurunan ini dipengaruhi oleh aksi ambil untung serta koreksi pada saham-saham tertentu terutama saham berisiko tinggi seperti sektor energi yang menjadi katalis tekanan indeks. Analis dari MNC Sekuritas menilai bahwa koreksi seperti ini masih wajar dan bukan indikasi pembalikan tren utama pasar.
3. Sentimen Global — Katalis atau Hambatan?
Potensi kenaikan IHSG tidak lepas dari dinamika global yang jauh lebih luas. Ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral besar seperti The Federal Reserve (The Fed) turut memberi angin segar. Ekspektasi pemangkasan suku bunga di AS bisa membuat aliran modal masuk kembali ke pasar negara berkembang seperti Indonesia karena aset berisiko menjadi lebih menarik dibandingkan obligasi dan instrumen berimbal hasil tetap.
Namun, risiko nilai tukar rupiah juga tetap membayangi. Volatilitas kurs rupiah terhadap dollar AS bisa mempengaruhi arus modal asing dan kinerja saham, terutama untuk emiten yang sangat sensitif terhadap pergerakan mata uang.
4. Proyeksi Lain yang Tidak Kalah Optimis
Target 9.700 bukan satu-satunya proyeksi bullish yang muncul. Lembaga dan analis lain memberi pandangan positif terhadap tren IHSG di 2026:
DBS Bank Jakarta memperkirakan IHSG bisa mencapai 9.500 di akhir 2026 berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi kuat serta penguatan rupiah.
BNI Sekuritas sebelumnya menargetkan IHSG berada di kisaran 9.100 pada tahun yang sama, selaras dengan tren penurunan suku bunga global yang memicu aliran modal kembali ke pasar berkembang.
Bahkan ada prediksi yang lebih agresif, mengatakan IHSG bisa mencapai 10.000, menjadi level psikologis baru jika fundamental ekonomi terus membaik.
5. Apa Artinya bagi Investor Indonesia?
Dengan begitu banyak proyeksi optimistis, muncul pertanyaan besar: Apakah ini waktunya “all in” di saham Indonesia?
Para analis biasanya mengingatkan investor bahwa:
a. Tren Jangka Panjang Masih Kuat
Potensi pertumbuhan IHSG ke area 9.000–9.700 menunjukkan pasar modal Indonesia menarik, terutama jika data laba perusahaan pulih dan sentimen global stabil.
b. Risiko Fluktuasi Tetap Ada
Target tinggi tersebut tidak berarti perjalanan bebas hambatan. Koreksi jangka pendek bisa terjadi ketika investor mengambil keuntungan atau sentimen pasar berubah secara tiba-tiba.
c. Diversifikasi dan Perhatian pada Valuasi
Investor disarankan tetap memerhatikan valuasi saham dan diversifikasi portofolio agar tidak terjebak pada euforia semata.
Peluang atau Gelembung?
Prediksi IHSG tembus 9.700 pada 2026 memicu perdebatan antara optimisme dan kehati-hatian di kalangan pelaku pasar. Target tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental pasar modal Indonesia, tetapi juga mengandung risiko yang bergantung pada realisasi pertumbuhan laba emiten, sentimen global, dan arus modal asing.
Investor besar dan kecil kini dihadapkan pada pilihan: memanfaatkan momentum, atau waspada terhadap kemungkinan koreksi pasar. Yang pasti, IHSG sedang menjadi magnet utama dalam diskusi investasi Indonesia di awal 2026 dan semua mata kini tertuju pada bursa saham Tanah Air.