Aruna PHK 40% Karyawan, CEO Sebut Akses Modal Investor Semakin Ketat
Tanggal: 4 Mar 2025 11:42 wib.
Dalam langkah yang mencerminkan tantangan serius yang dihadapi oleh sektor startup di Indonesia, perusahaan perikanan digital Aruna baru saja mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah pegawainya. Langkah ini diungkapkan langsung oleh CEO Aruna, Farid Naufal Aslam, melalui laman resmi perusahaan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari DealStreet Asia, sebanyak 40 persen pegawai Aruna terkena dampak dari keputusan ini.
Farid menjelaskan bahwa saat ini ekosistem startup sedang berada dalam fase yang penuh tantangan, terutama dalam sektor pertanian dan perikanan. Kondisi ini membuat investor semakin berhati-hati dalam melakukan investasi, sehingga menyulitkan akses permodalan bagi banyak startup, termasuk Aruna. "Tantangan yang ada berpengaruh terhadap perilaku investor, yang berujung pada semakin ketatnya akses terhadap modal di seluruh industri, termasuk bagi perusahaan yang berupaya untuk beroperasi dengan transparan dan bertanggung jawab," katanya pada Senin, 3 Maret 2025.
Keputusan Aruna untuk menggurangi jumlah pegawainya tak lepas dari upaya mempertahankan keberlangsungan bisnis di tengah kondisi pasar yang sulit. Farid mengungkapkan bahwa seperti banyak perusahaan lainnya di perekonomian saat ini, Aruna harus mengambil langkah-langkah sulit, termasuk melakukan restrukturisasi tenaga kerja. "Keputusan ini diambil untuk memastikan keberlangsungan perusahaan di jangka panjang," tambahnya.
Tindakan Aruna ini juga selaras dengan tren di industri agritech yang semakin kompleks di Indonesia. Sejumlah perusahaan di sektor ini, termasuk Tanihub Group yang baru-baru ini menghentikan operasinya, menunjukkan bahwa banyak startup yang harus berjuang keras untuk bertahan. Diketahui, Tanihub menghadapi masalah serius yang berujung pada pencabutan izin oleh OJK setelah divisi fintech mereka, Tanifund, terjerat dalam utang macet.
Sementara itu, perkembangan yang tidak menguntungkan juga menghampiri eFishery, startup perikanan lain di Indonesia. Pendiri eFishery baru-baru ini dituduh melakukan pemalsuan laporan keuangan. Kabar ini tentu saja menambah keprihatinan para investor yang semakin skeptis terhadap kelayakan investasi di sektor agritech. Situasi yang dihadapi eFishery menambah gelombang tantangan di industri, yang berpotensi mempengaruhi semua pelaku bisnis di dalamnya.
Aruna sendiri telah beroperasi sejak tahun 2016, didirikan oleh Farid bersama Indraka Fadhlillah dan Utari Octavianty. Startup ini mendapat perhatian serius dari para investor, terlihat dari pendanaan terakhir yang berhasil mereka kumpulkan, senilai US$ 35 juta dalam pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Prosus Ventures dan East Ventures. Namun, pada 2023, mereka hampir mengamankan pendanaan sebesar US$ 60 juta yang sayangnya tidak berhasil terwujud.
Farid menegaskan bahwa Aruna tetap berkomitmen untuk menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab dan transparan, walaupun di tengah penyesuaian organisasi yang kini harus dilakukan. Fokus Aruna saat ini adalah untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, agar tetap dapat bersaing dalam iklim yang menantang ini.
Industri agritech di Indonesia pun kian diperhatikan. Banyaknya kasus terkait kinerja dan keuangan startup di sektor ini menjadikan para investor lebih selektif memilih mitra bisnis mereka. Implikasi dari tren ini sangat besar; banyak startup yang sebelumnya menjanjikan kini harus menghadapi kenyataan pahit dari ketatnya akses modal dan meningkatnya skeptisisme di pasar.
Regulasi yang berubah-ubah dan persaingan yang semakin ketat menambah deretan tantangan yang harus dihadapi oleh startup seperti Aruna. Seiring perkembangan di sektor ini, perhatian dari pemerintah dan stakeholder lainnya sangat diperlukan guna menciptakan ekosistem yang lebih mendukung pertumbuhan startup, terutama di sektor agritech yang vital bagi perekonomian Indonesia.
Dengan segala tantangan yang muncul, Aruna dan banyak startup lainnya di industri ini harus tetap giat berinovasi dan menggali potensi baru untuk tetap bertahan di tengah ketidakpastian yang melanda. Pembenahan internal di Aruna, termasuk peningkatan produktivitas dan efisiensi, akan menjadi kunci bagi perusahaan untuk tetap eksis.
Investasi yang bertanggung jawab dan pelaksanaan praktik bisnis yang transparan akan menjadi fondasi yang kuat untuk masa depan perusahaan-perusahaan di sektor agritech, termasuk Aruna, agar dapat terus berkontribusi bagi perekonomian Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya menjadi pelajaran berharga bagi Aruna, tetapi juga bagi banyak startup lain untuk tetap bersikap optimis dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di pasar.