Sejarah Tak Terduga! Asal-Usul Baju Koko yang Bukan dari Indonesia
Tanggal: 30 Mar 2025 12:29 wib.
Di Indonesia, baju koko sudah menjadi simbol pakaian yang mengekspresikan identitas keagamaan, khususnya bagi pemeluk Islam. Pakaian ini sering dikenakan saat melaksanakan shalat atau pada acara-acara keagamaan lainnya. Namun, banyak yang belum menyadari jika baju koko yang kini akrab di mata masyarakat Indonesia sejatinya bukanlah produk asli lokal, melainkan berasal dari Tiongkok.
Berdasarkan penjelasan M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul *Islam yang Disalahpahami: Menepis Prasangka, Mengikis Kekeliruan* (2018), baju koko, meski dianggap sebagai pakaian pria Muslim, memiliki akar sejarah yang mengaitkannya dengan budaya Tiongkok. Ciri khas baju koko, yang umumnya terbuat dari bahan kain yang ringan dan tidak memiliki kerah, mirip dengan pakaian yang biasa dikenakan oleh sebagian masyarakat Tionghoa non-Muslim. Ini mengindikasikan adanya pengaruh silang antara budaya lokal dan budaya pendatang.
Sejarah mencatat, baju koko mulai dikenal luas di Indonesia ketika para pedagang Tionghoa pertama kali datang dan menetap di berbagai daerah. Mereka sering terlihat mengenakan pakaian tersebut, sehingga masyarakat lokal mulai menyebutnya baju koko. Istilah "koko" sendiri merupakan adaptasi bahasa yang muncul sebagai panggilan akrab untuk pria yang mengenakan pakaian tersebut. Proses adaptasi dan adopsi ini tidak berhenti di situ; baju koko lambat laun diterima dan menjadi bagian integral dari kebudayaan lokal, terutama di kalangan tokoh agama Islam dan masyarakat Muslim di Indonesia.
Pada awalnya, baju koko hanya dipakai oleh para ulama dan tokoh agama. Emha Ainun Najib, seorang budayawan dan penulis terkenal, menyebutkan bahwa pakaian ini memiliki citra yang sakral dan khusyuk. Namun, seiring berjalannya waktu dan kebiasaan masyarakat untuk mengikuti apa yang dikenakan oleh para pemuka agama, baju koko pun menjadi semakin populer di kalangan santri dan masyarakat umum. Akibatnya, pakaian ini akhirnya menjadi simbol keislaman yang tidak hanya dikenakan oleh segelintir orang, tetapi oleh banyak umat Islam di Indonesia.
Baju koko kini hadir dalam berbagai desain dan variasi warna, namun kesamaan bentuk dan fungsinya tetap dipertahankan. Di bulan Ramadan atau menjelang Lebaran, baju koko menjadi barang dagangan yang sangat laris di pasaran. Keberadaannya yang terjangkau menjadi salah satu alasan utama mengapa baju ini diminati oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelas bawah.
Umumnya, baju koko dijual dengan harga yang cukup bersahabat. Hal ini disebabkan oleh bahan baku yang digunakan, yang seringkali adalah kain murah dan proses menjahit yang tidak terlalu rumit. Dengan harga terjangkau, baju koko pun menjadi pilihan utama bagi banyak orang untuk digunakan dalam beribadah dan merayakan hari-hari besar keagamaan.
Para produsen pun memanfaatkan momentum ini dengan meningkatkan produksi baju koko menjelang hari-hari spesial. Selain itu, semakin berkembangnya teknologi dan industri fashion lokal membuat variasi baju koko semakin beragam. Beberapa desainer juga mulai berani mengeksplorasi kombinasi bahan dan desain modern, menjadikan baju koko lebih menarik dan sesuai dengan tren fashion masa kini.
Meski berasal dari kultur lain, baju koko kini telah bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Islam di Indonesia. Kekuatan baju koko terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dan berintegrasi ke dalam sisi kehidupan masyarakat, menjadikannya bukan sekadar busana, tetapi simbol kesatuan dan identitas kaum Muslim di tanah air.
Selain itu, dalam konteks sosial, baju koko juga diakui sebagai suatu bentuk egalitarianisme dalam berpakaian. Seseorang dari berbagai latar belakang bisa mengenakan baju ini tanpa terikat pada status sosial tertentu. Hal ini mencerminkan nilai-nilai kesetaraan yang dijunjung dalam agama Islam, di mana semua umat dipandang sama di hadapan Tuhan, tanpa memandang status atau kekayaan.
Pakaian ini tidak hanya relevan dalam aspek religius, tetapi juga membawa imbuhan nilai-nilai kultural masyarakat Indonesia, menjadikannya lebih dari sekadar busana harian. Dengan kata lain, baju koko menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara kebudayaan lokal dan global, menciptakan ruang bagi dialog antar budaya yang lebih luas.
Ketika melihat baju koko, banyak orang di Indonesia tidak hanya sekadar memandangnya sebagai pakaian, tetapi juga sebagai pengingat akan warisan budaya yang kaya. Ini menunjukkan bahwa fashion bukan hanya soal penampilan, tetapi juga dapat mencerminkan sejarah, nilai, dan identitas dukungan yang mendalam.
Fenomena baju koko inilah yang menunjukkan dinamika budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Baju koko telah menjadi salah satu contoh bagaimana berbeda latar belakang budaya bisa bersatu dalam identitas baru, sekaligus memperlihatkan kreativitas dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Seiring waktu, baju koko akan terus berkembang dan beradaptasi dengan selera masyarakat, menjaga relevansinya di tengah perubahan zaman.