Misteri Hewan Tertua di Bumi: Spons Gunung Berapi Berusia 15.000 Tahun!
Tanggal: 23 Mar 2025 15:55 wib.
Tampang.com | Ahli biologi telah mengumumkan penemuan yang sangat menarik di belahan bumi selatan, tepatnya di kawasan McMurdo Sound, Antartika. Mereka menemukan hewan tertua yang diketahui di planet ini, suatu spesies spons yang dikenal dengan nama spons gunung berapi raksasa (Anoxycalyx joubini) yang diperkirakan memiliki umur lebih dari 15.000 tahun. Penemuan ini meningkatkan pemahaman kita tentang kehidupan laut dan ekosistem Antartika yang unik.
Spons adalah hewan invertebrata yang tidak memiliki tulang belakang dan terklasifikasi dalam kerajaan Animalia. Mereka umumnya ditemukan di berbagai habitat laut, di mana mereka berfungsi sebagai penyedia tempat berlindung bagi hewan-hewan kecil lainnya. Selain itu, spons juga dikenal karena kemampuannya yang luar biasa dalam beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal mereka.
Salah satu spesies paling unik ini memiliki kemampuan untuk tumbuh hingga ketinggian 1,95 meter, dengan diameter mencapai 1,5 meter, menjadikannya salah satu spesies spons terbesar yang ada saat ini.
Anoxycalyx joubini mendiami kedalaman antara 15 hingga 144 meter di bawah permukaan air. Struktur kerangka spons ini dirancang sedemikian rupa sehingga dapat beradaptasi dengan baik di permukaan yang keras dan berbatu, juga di sedimentasi yang lebih lunak seperti pasir dan lumpur. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menjelaskan, "Jenis kerangka spons beradaptasi dengan baik pada habitatnya, memungkinkannya untuk hidup di permukaan yang keras dan berbatu atau sedimen lunak seperti pasir dan lumpur,".
Spons beroperasi dalam cara yang sangat menarik. Saat air melewati bagian luar spons yang berpori, hewan ini akan bergerak untuk menerima makanan dan oksigen sekaligus membuang limbah. Dalam spons, ada struktur kecil yang disebut flagela, yang berfungsi menciptakan arus untuk membantu menyaring bakteri dan menangkap partikel makanan. Keunikan ini memungkinkan spons untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem di lingkungan laut yang dingin dan gelap.
Dengan potensi sebagai hewan pertama yang muncul di Bumi, spons ini juga bisa menjadi spesies yang terlama masih bertahan. Faktor lingkungan yang ekstrem, seperti suhu air yang sangat rendah dan konsisten, turut berperan dalam memperlambat metabolisme spesies ini.
Penemuan menarik lainnya mengungkapkan bahwa ada individu yang diperkirakan berusia sekitar 23.000 tahun. Model pertumbuhan yang digunakan oleh para peneliti bahkan menyarankan bahwa spesies ini bisa bertahan hingga 40.000 tahun, meskipun asumsi tersebut mungkin perlu dikaji lebih mendalam untuk menentukan keakuratan usia tersebut.
Studi tentang umur panjang spons ini memberikan banyak wawasan tidak hanya dalam bidang biologi tetapi juga dalam geologi. Para ilmuwan mulai mempertimbangkan dampak dari peristiwa geologis yang mungkin telah mempengaruhi habitat spons tersebut.
Salah satu peristiwa penting yang diidentifikasi adalah fluktuasi permukaan laut yang terjadi selama glasial maksimum terakhir (LGM) antara 18.000 hingga 22.000 tahun yang lalu. Pada saat itu, permukaan laut diperkirakan 105 hingga 130 meter lebih rendah dibandingkan dengan saat ini. Hal ini menciptakan kondisi “tinggi dan kering” yang memungkinkan berbagai invertebrata laut, termasuk spons, untuk bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama.
"Selain itu, dapat disimpulkan bahwa tidak ada invertebrata laut di paparan Laut Ross yang dapat berusia lebih dari ~15.000 tahun,” ungkap ahli biologi kelautan, Susanne Gatti, dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2002. Penemuan ini tidak hanya menambah pengetahuan kita tentang keanekaragaman hayati di Antartika, tetapi juga memberikan keyakinan kepada kita tentang kemampuan adaptasi makhluk hidup terhadap perubahan lingkungan yang drastis.
Dalam konteks ekosistem yang lebih luas, keberadaan spons ini sangat penting. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung bagi berbagai spesies kecil, tetapi juga berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Spons juga berfungsi sebagai filter alami yang menyaring air laut, berkontribusi pada kualitas air dan kesehatan ekosistem secara keseluruhan.