Sumber foto: Google

Kota-Kota yang Membongkar Aspal dan Betonnya Demi Mengembalikan Jalan Tanah Alami

Tanggal: 19 Mar 2024 17:51 wib.
Kota-kota di Australia hingga Kanada membongkar beton dan aspal yang tidak begitu diperlukan di jalanan mereka, lalu mengembalikannya menjadi jalur tapak yang alami.

Pada suatu hari yang panas di bulan Juli, Katherine Rose berupaya membongkar bata beton menggunakan sebuah tiang logam.

Rose, yang merupakan seorang direktur komunikasi di Depave (organisasi nirlaba di Portland, Oregon, AS), sampai berkeringat dalam upayanya memenangkan “pertarungan” ini.

Dia akhirnya berhasil membongkar beton itu. Tanah di bawahnya yang selama ini tertutup beton pun akhirnya tersentuh kembali oleh sinar matahari.

“Rasanya seperti sedang membebaskan tanah,” kata Rose mengenang kegiatan pada musim panas lalu, ketika dia bersama 50 relawan membongkar beton seluas 1.670 meter persegi dari halaman sebuah gereja. 

“Ini adalah bagian dari upaya mewujudkan mimpi kita semua,” ujar Rose. Mimpi yang dia maksud adalah mengembalikan alam ke tengah-tengah kehidupan perkotaan.

Gagasan untuk melakukan depaving cukup sederhana, yakni mengganti sebanyak mungkin beton, aspal, dan permukaan yang keras lainnya dengan tanaman dan tanah.

Kegiatan ini telah mereka lakukan sejak 2008, ketika Depave didirikan di Portland.

Menurut orang-orang yang mendukung aksi ini, depaving memungkinkan air meresap ke tanah sehingga mengurangi banjir saat hujan deras, dan membuat kota menjadi “spons”.

Tanaman-tanaman asli yang tumbuh juga akan membantu satwa liar bertahan di perkotaan. Selain itu, pohon juga dapat membuat kota menjadi lebih teduh dan melindungi warga dari gelombang panas. Menghijaukan kota bahkan juga bisa meningkatkan kesehatan mental masyarakatnya. Namun jika depaving ingin benar-benar berdampak, maka praktiknya harus dilakukan secara lebih luas dan bukan cuma oleh segelintir aktivis serta relawan.

Dengan krisis iklim yang memburuk, beberapa kota di dunia mulai menerapkan depaving sebagai bagian dari strategi mereka untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Menurut beberapa orang, inilah saatnya untuk mulai merombak jalanan beton secara besar-besaran demi menciptakan lingkungan yang lebih alami. 

Setiap kali Rose berjalan-jalan di sebuah kota, dia akan memperhatikan tempat-tempat di mana aspal dapat dibongkar dan digantikan oleh tanaman.

“Saya selalu ingin berbuat lebih banyak. Sulit untuk tidak melihatnya [lingkungan alami] di mana-mana," kata Rose.

Depave telah membongkar lebih dari 33.000 meter persegi aspal di Portland sejak 2008, yang luasnya setara hampir 4,5 kali lapangan sepak bola.

Bagi Rose, pekerjaan ini “menyenangkan” karena mempertemukan para relawan setempat yang begitu antusias.

Biasanya mereka akan diberi pengarahan terkait keselamatan lebih dulu, kemudian berkumpul bersama.

Apa yang dilakukan oleh Depave di Portland telah menginspirasi Green Venture, organisasi nirlaba lingkungan di Ontario, Kanada.

Direktur Eksekutif Green Venture, Giuliana Casimirri mengatakan mereka memulai program itu dengan membuat taman mini penuh pepohonan asli di sebuah distrik kumuh di Kota Hamilton.

“Area ini dulunya adalah tempat yang harus buru-buru Anda hindari, tapi sekarang ada tempat untuk mampir atau ngobrol. Untuk duduk dan baca koran,” kata Casimirri.

Di Kota Hamilton, banjir dapat menyebabkan limbah tercampur oleh limpasan air yang mengalir ke Danau Ontario. Padahal danau itu merupakan sumber air minum di kota tersebut. Casimirri mengatakan Green Venture dan kelompok-kelompok lokal lainnya berupaya mengurangi potensi terjadinya hal tersebut. Mereka menjadikan depaving sebagai taktik utama. Penelitian menunjukkan bahwa permukaan taman yang kedap air seperti beton telah meningkatkan risiko banjir di wilayah perkotaan.

Kembali ke Portland, Rose mengatakan bahwa upaya depaving telah mengalihkan 24,5 juta galon air hutan dari saluran pembuangan air hujan setiap tahunnya.

Baptist Vlaeminck, yang memimpin upaya serupa bersama Leuven Life’s Pact di Leuven, Belgia, mengatakan bahwa upaya pembongkaran beton dan aspal seluas 6.800 meter persegi telah menambah infiltrasi air sebanyak 377.000 galon (1,7 juta liter) ke dalam tanah.

“Dengan terjadinya perubahan iklim, curah hujan pada cuaca ekstrem akan meningkat sehingga [pengaspalan dan pembetonan jalan] bukanlah hal yang baik – ini adalah suatu keharusan,” tambah Casimirri.

Pertanyaannya adalah apakah otoritas yang bertanggung jawab atas perencanaan perkotaan menyadari hal ini?

Di sebagian besar negara di dunia, depaving masih dianggap sebagai aktivitas pinggiran.

“Kami memerlukan skala investasi yang lebih banyak lagi,” kata Thami Croeser dari Pusat Penelitian Perkotaan RMIT University di Melbourne.

Menurutnya, inisiatif yang dilakukan masyarakat di jalanan di kota-kota mereka adalah hal yang luar biasa. Namun, akan lebih baik lagi jika depaving dan penghijauan dipandang sebagai infrastruktur jenis baru di sebuah kota.

Itu memerlukan perencanaan dan investasi yang sama seperti pembangunan jalur kereta api baru. Setidaknya di Eropa, beberapa kota sudah mulai menangani depaving secara serius. Sejumlah warga di London misalnya telah didorong untuk membongkar lapisan konkret di taman mereka. Kota Leuven di Belgia menyatakan sedang melakukan depaving – atau “ontharden” – secara besar-besaran.

Distrik pinggiran kota Spaanse Kroon, yang dihuni sekitar 550 orang, adalah salah satu target terbaru dari inisiatif depaving dan penghijauan yang dipelopori oleh pemerintah kota tersebut. Aspal dalam jumlah besar dibongkar dari jalanan di kawasan pemukiman, sehingga memaksa mobil berbagi bagian jalan yang sama dengan pejalan kaki dan pengendara sepeda.

“Kami sedang meningkatkan skalanya, kami membentuk tim yang berdedikasi untuk melakukan depaving,” kata Vlaeminck. 

Bagaimana pun, proyek-proyek semacam ini harus memenuhi kebutuhan semua orang di kota.

Untuk mendukung orang-orang dengan gangguan penglihatan atau mobilitas, Vlaeminck mengatakan area jalan atau trotoar yang tidak terpakai diprioritaskan untuk diaspal. Ruang itu perlu lebih dari satu meter di trotoar agar lega.

Sisa aspal atau beton yang ada juga perlu diperbarui dan diperbaiki untuk memastikan konturnya rata.

Sementara di tempat-tempat di mana aspal dan beton dihilangkan seluruhnya karena lalu lintas yang rendah, Vlaeminck mengatakan tim mereka menerapkan sejumlah langkah untuk mengurangi kecepatan kendaraan yang melintas.

Depave dan Green Venture turut bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk memastikan persyaratan aksesibilitas terpenuhi. Proyek yang mereka kerjakan baru-baru ini justru mengganti beton yang rusak dan tidak rata dengan jalan setapak alami yang rata.

Salah satu inisiatif yang digagas oleh Leuven adalah “taksi ubin”, yakni sebuah truk kecil yang akan menjemput sisa ubin, beton, atau semen yang dibongkar dari taman-taman warga. Sisa-sisa ubin itu akan dipakai kembali ketimbang dibuang. Menurut Vlaeminck, mereka menyisihkan beberapa juta euro untuk mendanai proyek repaving dan renaturasi semacam ini.

Ada pula inisiatif lain yang berlaku sejak Januari 2024. Pengembang di Leuven wajib membuktikan bahwa air hujan yang jatuh di area rumah baru atau yang direnovasi secara signifikan, bisa diresap dan digunakan kembali di tempat itu, atau ditampung ke taman di rumah itu.

Dengan demikian, air hujan tidak menggenang dan menyebabkan banjir. Vlaeminck mengatakan apabila pengembang tidak bisa membuktikan desain mereka siap menghadapi curah hujan ekstrem, maka proyek mereka tidak akan disetujui.

Prancis juga tengah meresmikan upaya seperti depaving, kata Gwendoline Grandin, ahli ekologi di Badan Keanekaragaman Hayati Regional Île-de-France.

Secara nasional, pemerintah Perancis telah menyediakan dana sebesar €500 juta untuk penghijauan perkotaan – termasuk depaving serta memasang dinding dan atap ramah lingkungan.

Salah satu kondisi yang mendorong kebijakan itu adalah agar kota-kota di Prancis lebih siap menghadapi gelombang panas yang telah berdampak buruk bagi mereka dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa proyek depaving yang telah berjalan di Prancis saat ini bisa dibilang cukup besar, seperti di bekas lahan parkir di sekitar hutan di Paris.

Area seluas 45.000 meter persegi itu telah diratakan dari yang dulunya terdiri dari jalan aspal, jalan setapak, dan beton yang diselingi rumput.

Setelah lapisan konkret hilang, permukaan tanahnya dibentuk ulang untuk menciptakan cekungan penampung air. Seluruh area ini juga akan segera ditanami. 

Di Melbourne, Croeser dan rekan-rekannya telah mempelajari potensi ruang yang tersedia untuk penghijauan jika ribuan tempat parkir diratakan dan diubah menjadi taman-taman kecil.

Dalam studi yang dilakukan pada 2022, mereka mensimulasikan dampak dari skenario seperti menghilangkan setengah dari lahan parkir terbuka di Melboune yang berjumlah sekitar 11.000.

Croeser berpendapat bahwa kalau itu diterapkan, masih terdapat cukup tempat parkir di luar badan jalan (off-street parking) misalnya di lantai dasar sebuah gedung.

Ini penting untuk memastikan bahwa masyarakat tidak akan dibiarkan kebingungan memarkir kendaraan mereka. Namun tempat-tempat parkir seperti ini perlu dibuka aksesnya untuk umum.

“Prinsip dasarnya adalah akses terhadap lahan parkir tidak hilang,” katanya.

“Dan kami mendapatkan ruang hijau seluas 50-60 hektare yang menjaga kota tetap sejuk dan mencegah banjir.”

Croeser mengatakan taman-taman kecil yang tersebar di mana-mana di kota besar seperti Melbourne tidak mungkin berdampak signifikan bagi satwa liar. Meski demikian, bagian-bagian kecil dari habitat ini sangat penting dan memungkinkan spesies-spesies satwa bergerak serta bertahan pada lingkungan yang berbeda dengan tempat mereka berevolusi.

Dalam studi mereka pada tahun 2022 mengenai depaving di Melbourne, Croeser dan rekan-rekannya memasukkan pemodelan yang menunjukkan bahwa meningkatnya penghijauan, meski sedikit, dapat memungkinkan spesies seperti lebah pita biru berkeliaran di habitan perkotaan yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya.

Rose setuju dengan Croeser bahwa, agar inisiatif ini dapat mengubah dunia, seluruh kota dan bahkan seluruh negara harus merangkulnya sepenuhnya.

Namun ia menekankan bahwa untuk mencapai titik tersebut, masyarakat harus menyuarakan ini sebagai sesuatu yang mereka butuhkan.

“Inisiatif ini dimulai dengan orang-orang yang mendorong pemerintah mereka dan mulai membahasnya pada skala lokal yang kecil,” kata Rose.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved