Gaji 10 Kali Lipat Lebih Besar, Dodi Kades diCiamis Pilih Kerja di Jepang
Tanggal: 15 Feb 2025 21:59 wib.
Tampang.com | Keputusan Dodi Romdani, Kepala Desa Sukamulya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, untuk mengundurkan diri dari jabatannya pada 2024 dan kembali bekerja di Jepang telah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Keputusan tersebut menjadi sorotan karena, menurut informasi yang beredar, gaji yang diterima Dodi sebagai pekerja di Jepang dikabarkan sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan penghasilannya sebagai kepala desa.
Dodi Romdani mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala desa setelah menerima tawaran pekerjaan di Jepang. Sebelum menjadi Kepala Desa Sukamulya, Dodi pernah bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Jepang, yang membuatnya memutuskan untuk kembali ke Negeri Matahari Terbit. Keputusan Dodi untuk kembali bekerja di luar negeri ini menjadi viral, mengingat gaji yang diterimanya di Jepang jauh lebih besar daripada yang diperoleh dari jabatannya sebagai kepala desa.
Kepala Bagian Hukum Setda Ciamis, Deden Nurhadana, membenarkan bahwa Dodi telah resmi mengundurkan diri dan memutuskan untuk kembali bekerja di Jepang. Menurut Deden, keputusan ini adalah hak pribadi Dodi yang memang sudah lama bekerja di Jepang sebelum akhirnya menjabat sebagai kepala desa.
Gaji yang diterima Dodi di Jepang, yang disebut-sebut sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan dengan gaji sebagai kepala desa, menjadi alasan utama di balik pengunduran dirinya. Sebagai kepala desa, Dodi memang memiliki tanggung jawab besar dalam memimpin dan mengelola desa, namun penghasilan yang didapatkan tidak sebanding dengan tawaran pekerjaan yang ada di Jepang.
Meski demikian, keputusan Dodi tetap mendapat dukungan dari banyak pihak yang memahami alasan pribadi dan ekonominya. Banyak yang melihat bahwa pilihan Dodi ini adalah keputusan yang realistis, mengingat sebagai pekerja migran di Jepang, dia dapat memperoleh penghasilan yang jauh lebih tinggi, yang bisa digunakan untuk kesejahteraan keluarga dan masa depan yang lebih baik.
Dodi bukan satu-satunya contoh pekerja migran Indonesia yang mendapatkan peluang ekonomi lebih baik di luar negeri. Setiap tahun, banyak warga Indonesia yang memilih bekerja di Jepang atau negara lainnya demi mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Jepang, dengan sistem upah yang tinggi dan kebutuhan tenaga kerja, menjadi salah satu tujuan utama para pekerja migran Indonesia.
Bagi Dodi, kembali ke Jepang tidak hanya menawarkan gaji yang lebih besar, tetapi juga kesempatan untuk memulai babak baru dalam karir dan kehidupan. Sebelumnya, Dodi sudah terbiasa dengan kehidupan di Jepang dan merasa lebih siap untuk kembali bekerja di sana daripada melanjutkan tugasnya sebagai kepala desa di tanah air.
Keputusan Dodi untuk mengundurkan diri dari jabatannya juga memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap perkembangan desa Sukamulya. Meskipun Dodi meninggalkan posisinya, desa tetap memiliki kepala desa yang baru, dan masyarakat berharap pemimpin yang baru dapat melanjutkan program-program yang telah direncanakan.
Namun, pengunduran diri Dodi juga membuka perbincangan lebih luas mengenai tantangan yang dihadapi oleh kepala desa di Indonesia, terutama terkait dengan penghasilan yang tidak sebanding dengan tanggung jawab yang harus dijalankan. Keputusan Dodi ini bisa jadi menjadi refleksi bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan kepala desa di seluruh Indonesia.
Keputusan Dodi Romdani untuk kembali bekerja di Jepang menjadi sorotan karena gaji yang lebih besar yang ditawarkan dibandingkan dengan tugasnya sebagai kepala desa. Sebagai pekerja migran, Dodi berhak mengambil keputusan terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Meski demikian, hal ini juga menyoroti pentingnya memperhatikan kesejahteraan kepala desa di Indonesia agar dapat menjalankan tugasnya dengan optimal tanpa harus mempertimbangkan penghasilan yang jauh lebih kecil dibandingkan pekerjaan lain.