Sumber foto: Google

BGN Usul Belalang-Ulat Sagu Jadi Menu MBG di Beberapa Daerah, Manfaatkan Potensi Lokal

Tanggal: 26 Jan 2025 20:43 wib.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan pendekatan baru dalam penyusunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memanfaatkan potensi pangan lokal di berbagai daerah. Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan keberagaman sumber daya alam dan kebiasaan makan masyarakat setempat, sekaligus mendukung keberlanjutan program MBG secara nasional.

Dadan Hindayana, Kepala BGN, menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan setiap wilayah menggunakan bahan makanan yang sesuai dengan selera dan ketersediaan sumber daya lokal. Ia mencontohkan, beberapa daerah di Indonesia yang memiliki tradisi mengonsumsi serangga, seperti belalang dan ulat sagu, dapat memanfaatkan sumber protein tersebut sebagai bagian dari menu MBG.

“Kesukaan masyarakat terhadap bahan pangan tertentu, seperti serangga, bisa diakomodasi. Misalnya, ada daerah yang biasa makan belalang atau ulat sagu, bahan itu bisa menjadi sumber protein yang murah dan bergizi,” ujar Dadan dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (26/1/25).

Usulan ini mencerminkan komitmen BGN untuk menjawab tantangan keberagaman pangan di Indonesia. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan suku, pola makan masyarakat Indonesia sangat beragam. Oleh karena itu, pendekatan berbasis potensi lokal dianggap lebih relevan daripada menerapkan menu yang seragam di seluruh wilayah.

“Tidak semua daerah memiliki akses yang sama terhadap sumber protein seperti daging ayam atau sapi. Namun, banyak daerah memiliki sumber daya lokal yang kaya protein, seperti belalang di Yogyakarta atau ulat sagu di Papua. Ini adalah bentuk optimalisasi potensi lokal yang bisa meningkatkan asupan gizi masyarakat,” tambah Dadan.

Belalang dan ulat sagu dikenal sebagai sumber protein alternatif yang kaya akan nutrisi. Belalang, misalnya, mengandung protein tinggi, asam amino esensial, serta rendah lemak. Ulat sagu, yang banyak dikonsumsi di wilayah timur Indonesia, juga kaya protein, vitamin, dan mineral penting seperti zat besi dan zinc.

Bahkan, organisasi internasional seperti FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah mengakui manfaat konsumsi serangga sebagai solusi pangan masa depan. Selain bergizi, serangga juga lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber protein konvensional seperti daging sapi.

Program MBG merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama anak-anak sekolah di wilayah rentan. Dengan mengakomodasi bahan pangan lokal, diharapkan program ini dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Dadan menegaskan bahwa penerapan menu berbasis lokal tidak hanya menyesuaikan selera masyarakat, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor. “Ketika kita menggunakan bahan lokal, biaya distribusi dan produksi akan jauh lebih hemat. Selain itu, ini juga mendorong keberlanjutan ekonomi lokal,” jelasnya.

Namun, usulan ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah bagaimana mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diversifikasi pangan, terutama di daerah yang belum terbiasa mengonsumsi serangga. Selain itu, standar kebersihan dan pengolahan bahan pangan lokal seperti belalang dan ulat sagu juga perlu dipastikan agar aman dikonsumsi.

“Kami sedang merancang panduan dan pelatihan bagi daerah yang ingin mengintegrasikan bahan pangan lokal ke dalam program MBG. Tujuannya agar setiap menu tetap memenuhi standar gizi dan keamanan pangan,” kata Dadan.

Dengan memanfaatkan potensi lokal seperti belalang dan ulat sagu, BGN berharap program MBG tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi cerminan kekayaan budaya dan keragaman pangan Indonesia. Langkah ini menjadi bukti bahwa solusi gizi tidak selalu mahal, tetapi bisa dimulai dari sumber daya yang ada di sekitar kita.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved