Banjir di Pesisir Jawa Tengah: Mungkinkah Selat Muria Kembali Muncul
Tanggal: 23 Mar 2025 15:52 wib.
Tampang.com | Pada awal tahun 2024, sejumlah wilayah pesisir di Jawa Tengah, termasuk Demak, Pati, Semarang, dan Kudus, mengalami banjir yang cukup parah. Fenomena alam ini memunculkan beragam spekulasi di kalangan masyarakat tentang kemungkinan kembalinya Selat Muria, yang telah lama menghilang dari peta geografis Indonesia. Selat Muria dulunya memisahkan Pulau Jawa dari Gunung Muria, namun dalam perjalanan sejarahnya, selat ini menjadi daratan sekitar 300 tahun yang lalu.
Para ahli dan peneliti mulai merespons spekulasi ini dengan memberikan penjelasan ilmiah. Eko Soebowo, seorang pakar geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan bahwa penurunan tanah di wilayah-wilayah tersebut sangatlah mungkin terjadi dan berpotensi membuka kembali Selat Muria. Namun, ia juga menekankan bahwa penyebab kemunculannya bukanlah banjir. Menurut Eko, penurunan permukaan tanah menjadi isu yang lebih signifikan daripada sekadar masalah banjir yang ada di permukaan.
Eko menjelaskan bahwa penurunan permukaan tanah di kawasan Semarang, Demak, dan sekitarnya bervariasi, dengan intensitas penurunan tertinggi mencapai 10 sentimeter per tahun, khususnya di wilayah Semarang timur. Laju penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik jenis tanah yang berbeda-beda serta aktivitas manusia di wilayah tersebut.
Dalam menjelaskan faktor-faktor penyebab penurunan muka tanah, Eko membaginya menjadi dua kategori, yaitu faktor alami dan faktor antropogenik, yang merupakan dampak dari aktivitas manusia. Faktor alami meliputi karakteristik tanah sedimen muda yang secara alami memiliki sifat rentan terhadap penurunan muka tanah, dengan tingkat penurunan sekitar 1 sentimeter per tahun. Di sisi lain, aktivitas tektonik juga berkontribusi dengan penurunan yang lebih kecil, sekitar beberapa milimeter per tahun.
Namun, faktor antropogenik lah yang menjadi penyebab utama dari masalah ini. Beban yang dihasilkan oleh infrastruktur di atas tanah lunak dapat menyebabkan penurunan tanah hingga sebesar 1 sentimeter setiap tahunnya. Lebih parah lagi, eksploitasi air tanah yang berlebihan, yang banyak dilakukan oleh penduduk setempat, dapat menyebabkan laju penurunan hingga 7-8 sentimeter per tahun. Ini jelas menunjukkan bahwa aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, memiliki dampak yang signifikan terhadap perubahan muka tanah di kawasan tersebut.
Selanjutnya, Eko juga menyoroti dampak perubahan iklim sebagai faktor penting dalam perubahan geografi wilayah pesisir. Kenaikan permukaan air laut yang diakibatkan oleh perubahan iklim dapat menghasilkan perubahan tata ruang yang lebih luas, termasuk potensi kembalinya Selat Muria. Menurut perkiraan, jika kondisi ini terus berlanjut, ada kemungkinan wilayah yang saat ini merupakan daratan bisa kembali terendam air di masa depan.
Eko juga menegaskan bahwa banjir yang terjadi saat ini bukan merupakan penyebab utama munculnya kembali Selat Muria. Ia menjelaskan, "Banjir justru akan mengisi sedimentasi di daerah selat tersebut. Dari Muria, dari selatan Demak, selatan Semarang, semua sungai-sungainya kan bermuara di daerah pantura." Dengan kata lain, aliran sungai akan membawa material dan barang-barang yang dapat membentuk sedimentasi, tetapi tidak akan berfungsi untuk menciptakan kembali selat tersebut.
"Banjir ini membawa sedimen ke wilayah terdampak dan pada akhirnya hanya meningkatkan ketinggian daratan di daerah itu," lanjut Eko, menjelaskan lebih dalam tentang fenomena ini. Hal ini memberikan gambaran bahwa meskipun saat ini terdapat isu banjir, dampaknya pada geografi dan topografi tidak sama sekali mendukung kembalinya Selat Muria.
Pengamatan dan studi lapangan di sejumlah desa serta kota di sekeliling daerah tersebut menunjukkan bahwa dampak aktivitas manusia tetap menjadi elemen dominan yang perlu diperhatikan. Dengan mempertimbangkan prediksi dan data yang terus berkembang mengenai perubahan permukaan tanah dan kenaikan air laut, ilustrasi mengenai potensi kemunculan kembali Selat Muria menjadi semakin kompleks.
Beberapa masyarakat lokal tampak optimistis terkait isu ini, bahkan ada yang merencanakan inisiatif untuk melestarikan sejarah dan budaya lokal di sekitar Gunung Muria. Mereka percaya bahwa dengan memahami sejarah dan kondisi sekarang ini, potensi mitigasi serta adaptasi terhadap tantangan iklim di masa mendatang dapat lebih ditingkatkan.