Sebaiknya Prabowo Tidak Mencalonkan Anies Baswedan

Tanggal: 19 Feb 2018 13:33 wib.
Anies Baswedan akan dicapreskan oleh Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019. Begitu yang dikatakan banyak orang. Sebagian lagi bilang, Anies Baswedan akan maju sebagai pendamping Prabowo, alias menjadi cawapres.

Pendapat, atau bahkan mungkin harapan, demikian tidak salah mengingat nama Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2012 ini tengah moncer dan beberapa lembaga survei menyebut namanya dalam daftar calon presiden.

Tetapi, hasil survei bukanlah sebuah angka yang hanya menampilkan satu dimensi. Ada sederet dimensi lainnya yang tersembunyi di dalamnya yang mungkin tidak terpikirkan oleh banyak orang.

Anies Baswedan disebut-sebut sebagai kuda hitam jika diturunkan dalam Pilpres 2019. Begitu kesimpulan Muhammad Qodari, Boss Indo Barometer, yang baru saja merilis hasil surveinya pada 15 Februari 2018.

Menurut Qodari, Anies bisa menjadi kuda hitam karena jabatan strategisnya sebagai orang nomor satu di Jakarta dan banyak sorot oleh media massa. Hal ini pastinya, membantu dirinya dikenal seluruh lapisan masyarakat.

"Tetapi PR (pekerjaan rumah) banyak, jadi kalau Anies buat kebijakan, kebijakannya itu jadi sorotan, contohnya Becak yang pembicaraannya berlanjut terus," tutur Qodari (Sumber: Tribunnews.com).

Kesimpulan Qadari benar, sosok Anies memang kuda hitam jika diturunkan dalam Pilpres 2019. Tetapi, Qadari salah jika berpikir kekudahitaman Anies itu disebabkan karena sebagai Gubernur DKI, Anies mendapat sorotan media.

Sorot media memang menghasilkan peningkatan popularitas. Tetapi, dalam popularitas terkandung dua muatan, yaitu sentimen positif dan sentimen negatif. Karenanya ada orang yang populer karena dielu-elukan media. Sebaliknya ada juga yang menjadi populer karena diberitakan sebagai musuh masyarakat. Dan, ada juga yang karena keduanya.

Jika diperhatikan, sebagian besar media arus utama dan pengguna media sosial lebih menempatkan Anies sebagai tokoh antagonis. Dengan pembingkaian tersebut, logikanya, Anies Baswedan tidak mungkin menjadi tokoh yang layak diturunkan dalam Pilpres 2019.

Pemosisian Anies Baswedan oleh media ini berbanding terbalik dengan pemosisian terhadap Jokowi. Sejak masa kampanye Pilgub 2012, Jokowi selalu disorot dengan bingkai positif. Bingkai positif inilah yang membuat sentimen positif terhadap Jokowi terus meningkat yang ujungnya ada pada meroketnya tingkat elektabilitas.

Artinya, hubungannya antara sorot media dengan meningkatnya elektabilitas tidak selalu seiring sejalan.  

Jika mengacu pada pantauan PoliticaWave selama musim Pilpres 2014, sentimen positif (baik itu yang bersumber dari media arus utama maupun medisos) untuk Jokowi tercatat tiga kali lipat sentiman negatif yang disarangkan kepada mantan Walikota Surakarta tersebut.

Dari selisih antara sentimen positif dan sentimen negatif itulah didapat net sentimen Jokowi yang jauh mengungguli net sentimen Prabowo. Dari net sentimen itulah elektasbilitas Jokowi pun mengalahkan elektabilitas Prabowo.

Lantas, bagaimana dengan Anies Baswedan?

Tetapi, apapun itu, munculnya Anies Baswedan yang berdampak pada menurunnya tingkat elektabilitas Jokowi sudah diperkirakan jauh hari sebelum lembaga-lembaga survei itu merilis hasil surveinya. Artinya, Anies sudah menjadi antitesis bagi Jokowi.

Sifat keantitesisan Anies Baswedan terhadap Jokowi inilah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Prabowo untuk lebih menggerus elektabilitas Jokowi.

Salah satu caranya, tentu saja, dengan tidak menurunkan Anies Baswedan, baik itu sebagai capres maupun cawapres, dalam Pilpres 2019. Ini langkah pertama Prabowo untuk memosisikan jika Anies berbeda dengan Jokowi, bahkan bertolak belakang. Dengan demikian, posisi antitesis Anies terhadap Jokowi semakin menguat.

Lewat langkah pertamanya tersebut, Prabowo sudah dapat merontokkan tingkat elektabilitas Jokowi. Prabowo bisa menyandingkan Anies Baswedan dengan Tri Rismaharini yang menolak keras ketika didesak melepaskan jabatannya sebagai Walokota Surabaya untuk maju dalam Pilgub Dki 2017 dan Pilgub Jatim 2018.

Jika langkah pertama ini dapat dikelola dengan baik, Jokowi sudah tamat sejak Agustus 2018 ini. Sebab, langkah pertama ini harus diambil pada masa-masa pendaftaran balon capres-cawapres pada Agustus 2018.

Karena sasarannya adalah pemilih, maka langkah pertama ini tidak mungkin efektif jika hanya berupa lontaran-lontaran pernyataan lewat media. Untuk itu, langkah pertama ini harus benar-benar mendapatkan perhatian khalayak luas, bukan hanya pencari berita atau penggila medsos. Di sini Prabowo bisa menerapkan strategi serangan kilat.

Gebrakan awal Prabowo yang membandingkan sikap Anies Baswedan yang menolak dicapreskan atau dicawapreskan pada 2018 dengan sikap Jokowi yang menerima pencapresannya pada 2014 tentunya tidak membutuhkan bahasa yang terlalu rumit untuk bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat awam. Dan, lantaran saking tidak terlalu rumitnya, gebrakan pertama Prabowo ini akan sulit untuk bisa dipatahkan oleh kubu Jokowi.

Bukan hanya itu, gebrakan Prabowo yang tidak mencalonkan Anies Baswedan ini secara otomastis akan membuat sosok Anies semakin populer dengan berbalutkan sentimen positif. Artinya, jika digelar survei dengan memasukkan nama Anies Baswedan, tingkat elektabilitas Anies akan meroket.

Dan, karena tidak diturunkan dalam Pilpres 2019, maka tingkat elektabilitas Anies tersebut akan dikonversikan kepada calon yang didukungnya. Artinya, Anies Baswedan akan menjadi vote getter bagi calon yang dijagokan Prabowo atau bagi Prabowo sendiri
Copyright © Tampang.com
All rights reserved