Benarkah Prabowo Terlibat Saracen?

Tanggal: 5 Sep 2017 13:09 wib.
“Dulu saat pilpres 2014 banyak akun Facebook yang menghina Islam dan Pak Prabowo. Kami simpatisan Pak Prabowo. Saya membajak akun yang sudah kelewatan menyerang Islam dan Pak Prabowo. Kan banyak grup diskusi seperti itu, nanti saya akan alih. Lalu saya ganti namanya menjadi Allah Maha Besar atau Saracen. Akun-akun pribadi yang menyerang juga saya ambil. Banyak juga akun dari Thailand karena sering menyebar video porno,” papar pentolan Saracan Jasriadi kepada Tempo.co.

Pengakuan Jasriadi kepada media hanyalah satu dari sederet informasi yang kemudian dikemas seolah Saracen yang merupakan penyebar kebencian SARA dan hoax tersebut terkait dengan Prabowo.

Saracen, menurut Polri, merupakan sindikat penyebar konten hoax dan kebencian berdasarkan SARA. Dalam operasinya, komplotan ini mengirimkan sejumlah proposal kepada calon pengguna jasanya. Menurut polisi, Saracen mengenakan tarif hingga ratusan juta untuk jasa yang diberikannya.

Sebelum pengakuan Jasriadi, ramai diberitakan tentang struktur organisasi Saracen yang diposting dalam saracennews.com Di situ tercantum nama Eggi Sudjana, Mayjen (purn) Ampi Tanudjiwa, dan Rijal Kobar sebagai pengurusnya.

Ketiga tokoh yang disebut dalam kepengurusan Saracen tersebut bukan saja dikenal sebagai orang-orang terdekat Prabowo, tetapi juga relawan pendukung Prabowo yang tergabung dalam Solidaritas Menangkan Prabowo (SMP).

Hampir bebarengan dengan beredarnya struktur organisasi Saracen, beredar sebuah foto yang menunjukkan adanya pertemuan relawan SMP. Menurut pengakuan Eggi, foto itu diambil di rumahnya pada 2013 atau sebelum Pilpres 2014.

Karena dalam foto nampak Eggi, Ampi, dan Rizal, maka foto pertemuan relawan SMP tersebut kemudian dikenal sebagai foto “Rapat Saracen”.

Belakangan, polisi menangkap Muhammad Abdullah Harsono yang diberitakan sebagai penggagas terbentukya Saracen. Oleh sejumlah media, Harsono dikenal oleh para tetangganya sebagai kader PKS.

Sederhananya. Jasriadi mengaku sebagai pendukung Prabowo saat Pilpres 2014. Jasriadi bertemu dengan Rizal, orang yang dikenal dekat dengan Prabowo. Rizal mengusulkan pada jasriadi untuk memasukkan nama Eggi dan Ampi dalam kepengurusan Saracen,

Bersama dengan Rizal dan Ampi, Eggi membentuk relawan SMP untuk mendukung Prabowo dalam Pilpres 2014. Dan, ditangkapnya Harsono, penggagas Saracen, yang dikenal sebagai kader PKS, partai yang paling militan mendukung segala langkah Prabowo.

Sekalipun media telah memublikasikan serentetan informasi tentang Saracen sekaligus membumbuinya dengan simpul-simpul yang mengaitkan Saracen dengan Prabowo, tetapi posisi Prabowo masih jauh dari bidikan.

Pertama, pengaitan Prabowo dengan Saracen hanya berdasarkan tercantumnya tiga nama pucuk pimpinan SMP saat Pilpres 2014 dalam struktur organisasi Saracen pimpinan Jasriadi.

SMP memang benar-benar ada. Dan, dari rekam jejaknya di dunia maya, SMP memang mendukung Prabowo saat Pilpres 2014. Benar, secara hukum, SMP tidak ada hubungannya dengan Gerindra dan Prabowo. Tetapi, secara moral SMP, Gerindra, dan Prabowo memiliki hubungan yang sulit disangkal. Karenanya, salah besar jika Gerindra mengingkari keberadaan SMP. 

Sikap Gerindra yang mengingkari SMP sedkit banyak mirip dengan reaksi kubu Cikeas saat menghadapi pengakuan Antasari Azhar yang menuding SBY mengetahui perkara pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Saat itu, sehari jelang hari H Pilgub DKI Jakarta 2017, kubu dan pendukung Cikeas sama sekali tidak mematahkan “serangan” Antasari. Cikeas justru lebih mengedepankan menyerang balik Antasari dengan isu-isu lawas, seperti perselingkuhan Antasari dengan Rani Juliani. Akibatnya, serangan Antasari teras menyasar SBY.

Mirip dengan pendukung Cikeas, pendukung Prabowo pun lebih cenderung menyerang balik Jokowi dengan cara membebarkan ujaran-ujaran kebencian dan hoax yang disebarkan oleh relawan pendukung Jokowi, khususnya JASMEV, pada masa Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2017.

Menyerang balik dengan cara seperti itu sama sekali tidak akan mampu mematahkan gempuran lawan. Apalagi, serangan balik itu dilakukan dengan menggunakan pelor-pelor lawas, padahal lawan menyerang dengan amunisi termukhtahir.

Para elit Gerindra seharusnya memahami benang merah hubungan Prabowo-Saracen ada pada SMP. Dan, SMP dimotori oleh sejumlah kalangan dekat Prabowo. Karenanya, mengingkari eksistensi SMP sebagai relawan pendukung Prabowo tidak dapat mematahkan tudingan adanya keterkaitan Prabowo-Saracen.

Kedua. Kalau dicermati, pengaitan Prabowo dengan Saracen masih berupa opini. Karena masih berwujud opini, seharusnya Gerindra pun mematahkan serangan kepada Prabowo dengan opini pula.

Lain halnya jika tuduhan kepada Prabowo tersebut disertai dengan bukti. Jika disertai dengan bukti, maka Gerindra pun mau tidak mau harus membantahnya dengan bukti.

Saracen adalah sindikat yang melakukan aktivitas yang dapat dijatuhi hukuman pidana. Dengan kata lain, Saracen adalah organisasi kriminal. Ini adalah informasi yang sulit dibantah oleh siapa pun..

Tetapi, dari informasi yang sulit dibantah tersebut muncul sebuah pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah organisasi kriminal memublikasi struktur organisasinya secara terang-terangan melalui situs yang bisa diakses siapa saja?

Di mana logikanya?

Dan apakah masuk akal jika Rizal mengusulkan kepada Jasriadi untuk mamasukkan dirinya sendiri beserta Eggi dan Ampi ke dalam sindikat kriminal semacam Saracen. Apalagi sampai membiarkan namanya serta nama kedua sohibnya tercantum dalam struktur organisasi kriminal yang dipublikasikan dalam situs saracennews.com

Inilah logika yang seharusnya disodorkan oleh Gerindra.

Dari sederet logika di atas, maka pencantuman nama ketiga relawan pendukung Prabowo dalam struktur organisasi Saracen adalah hoax itu sendiri.

Rizal, berdasarkan pengakuannya sendiri, mengusulkan namanya dua relawan SMP lainnya untuk masuk ke dalam struktur organisasi Saracen yang dipublikasikan saracennews.com.

Jika melihat dari konten saracannews.com (yang terlihat bersih dari hoax dan ujaran kebencian), dapat disimpulkan jika ada sejumlah pengelola saracennews.com yang melakukan tindakan kriminal di luar dari aktivitasnya sebagai pengelola situs saracennews.com. Dan sejumlah orang pengurus itu membawa nama Saracen dalam aktivitas kriminalnya.

Pertanyaannya, apakah Rizal mengetahui secara pasti aktivitas sampingan pengelola saracennews.com sebagai penyebar hoax dan ujaran kebencian seperti yang diinformasikan Polri?

Menariknya, tercantumnya nama Eggi, Ampi, dan Rizal diopinikan sebagai bukti jika Prabowo merupakan klien atau pengguna jasa Saracen.

Dengan adanya Rizal sebagai pengurus Saracen yang juga dikenal dekat dengan Prabowo, maka tidak masuk akal jika Saracen mengirimkan proposalnya penawaran jasanya kepada Prabowo.

Jadi, kalau benar ada proposal dari Saracen untuk Prabowo, maka secara otomatis opini yang mengaitkan Prabowo dengan Saracen menjadi lemah. 

Dan, kalau benar Polisi menemukan setumpuk proposal Saracen, artinya sindikat kriminal ini tidak hanya mengirimkannya kepada satu pihak. Atau, ada pihak lain di luar Prabowo/Gerindra yang menjadi sasaran pemasarannya.

Kemudian, muncul nama Harsono sebagai penggagas Saracen. Dan oleh tetangganya Harsono dikenal sebagai kader PKS. Atas dasar status Harsono sebagai kader PKS, opini yang mengaitkan Prabowo dengan Saracen pun semakin menguat.

Sejak Pilgub DKI 2017, PKS memang identik dengan hoax. Bahkan, akun Twitter yang dimiliki mantan Presiden PKS, Tiftatul Sembiring, diketahui sudah 2 kali menyebarkan informasi hoax. Belum lagi akun yang dioperasikan oleh Mustofa Nahra dan Jonru Ginting.

Padahal, sejumlah akun yang diduga kuat dimiliki oleh kader PKS dan situs-situs yang juga diduga kuat dikelola oleh kader PKS  diketahui telah menyebarkan konten kebencian atas dasar SARA dan hoax jauh hari sebelum Pilpres 2014.

Dan, pada saat Pilgub DKI 2012, sejumlah akun dan situs yang diduga kuat dimiliki oleh kader PKS baru menyebarkan ujaran penuh kebenciannya dan hoax setelah memasuki putaran kedua, Hal ini diduga setelah Jokowi menolak sejumlah mahar yang dimintakan PKS.

Pada saat Pilpres 2012, Prabowo berserta Gerindra yang dipimpinnya mendukung pasangan Jokowi-Ahok. Otomatis, saat itu ujaran-ujaran penuh kebencian dan hoax juga ditujukan kepada Prabowo.

Jadi, ujaran kebencian dan hoax yang dilakukan oleh Harsono tidak ada hubungannya dengan dengan dukungan PKS kepada Prabowo. Dengan kata lain, didukung atau tidaknya Prabowo oleh PKS, ujaran penuh kebencian dan hoax tetap akan dilontarkan oleh sejumlah akun dan situs yang diduga dimiliki oleh kader PKS.

Tetapi, patut diketahui juga jika ada sejumlah akun yang diduga dimiliki oleh kader PKS yang menentang keras penyebaran hoax dan ujaran penuh kebencian yang dilontarkan oleh akun-akun dan situs-situs yang diduga kuat milik kader PKS. Hanya saja suara penolakan itu kalah nyaring hingga tidak terdengar gaungnya.

Dengan demikian, semakin jelas jika opini yang mengaitkan Prabowo dengan Saracen sangatlah lemah. Apalagi jika mengaitkan Saracen dengan SBY.

Seperti kasus makar, kasus Saracen pun pada mulanya disasarkan ke arah SBY. Dan, sebagaimana kasus makar, kasus Saracen kemudian digeser ke arah Prabowo.

Sebenarnya, penemuan proposal yang konon dikirim sindikat Saracen merupakan poin terunik dari kasus ini. Sebab, bagaimana mungkin dana yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi kriminal dimintakan dengan berkirim proposal.

Bukankah itu sama saja dengan memudahkan pihak yang berwajib meringkus komplotan ini. Sebab bisa saja proposal yang dikirim Saracen itu kemudian dilaporkan ke Polisi.

Lebih dari itu, adakah pihak yang tertarik menggunakan jasa saracen setelah membaca isi dari proposal yang diterimanya? Sebab, jangankan untuk menggunakan jasanya, untuk melakukan komunikasi awal dengan Saracen pun pastinya sudah sangat beresiko.

Namun demikian, kejanggalan-kejanggalan yang ada pada kasus Saracen bukan berarti kasus ini hasil rekayasa. Kasus ini masih sangat dangkal dikarenakan Polri masih mengumpulkan bukti-bukti terkait kasus ini. Atau, bisa juga karena Polri belum atau tidak  mengungkapkan seluruh temuan yang didapatnya.

Apa pun itu, kasus Saracen tetap menimbulkan pertanyaan, siapakah otak yang memainkan isu jahat lewat pendirian “pengusaha” konten hoax dan penyebar kebencian berlandaskan SARA ini? Dan, pertanyaan iinilah yang pastinya tidak akan pernah terjawab.

Di-copas dari http://www.kompasiana.com/gatotswandito/59ae180cc744dd778c290d62/benarkah-prabowo-terkait-saracen
Copyright © Tampang.com
All rights reserved