Ini 4 Hal yang Pengaruhi Kebahagiaan

Tanggal: 3 Okt 2017 09:29 wib.
Tampang.com - Hasil studi yang dilakukan oleh Harvard Study of Adult Development, mengungkapkan terdapat 4 hal yang pengaruhi kebahagiaan seseorang.

 

Studi ini mengambil waktu hingga 78 tahun pada 724 orang. Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan survei setiap dua tahun terhadap kesehatan fisik dan mental, kehidupan profesional, persahabatan, dan pernikahan.

 

Dalam survei tersebut dilakukan wawancara langsung secara berkala, uji medis, tes darah, hingga pemindaian otak.

Dengan melakukan studi tersebut, para periset mampu melihat keadaan dan pilihan hidup mereka, dan melihat bagaimana efek hal tersebut berdampak dalam kehidupannya.

Direktur peneliti dan peneliti utama studi itu, Robert J Waldinger, membagikan sejumlah pembelajaran besar dalam TED Talk soal kebahagiaan yang didasarkan pada studi itu.

Berdasarkan penelitian, terungkap bahwa hubungan yang baik dengan orang lain membuat seseorang lebih bahagia dan sehat. Sementara itu, perasaan kesepian terbukti berdampak negatif dalam kehidupan seseorang.

Dikutip dari laman Ideas.ted.com, Senin (2/10/2017), menurut Waldinger terdapat 4 hal yang membuat kehidupan seseorang bahagia.

1. Masa Kecil yang Bahagia Memberikan Efek Berkepanjangan

Jika seseorang memiliki hubungan yang hangat dengan orangtua pada masa kanak-kanak, biasanya ia akan memiliki hubungan yang lebih hangat dan aman dengan orang-orang terdekat pada saat dewasa.

Mereka yang memiliki masa kanak-kanak bahagia, biasanya juga menjalin hubungan yang bahagia dengan pasangannya dan juga memiliki kesehatan fisik lebih baik.

Namun, bukan hanya hubungan dengan orang tua yang penting. Memiliki hubungan dekat dengan setidaknya satu saudara di masa kanak-kanak, dapat menurunkan tingkat depresi pada usia 50 tahun.

2. Kebahagiaan Masa Kanak-Kanak Bisa Ditebus pada Usia Paruh Baya

Mereka yang tumbuh di lingkungan yang 'menantang' biasanya akan tumbuh dewasa dengan tak bahagia.

Tapi pada saat mereka mencapai usia paruh baya (50-65 tahun), mereka akan terlibat dalam apa yang psikolog sebut dengan 'generativitas' atau ketertarikan untuk membangun generasi berikutnya. Mereka yang melakukan aktivitas tersebut, akan merasa lebih bahagia dibanding yang tidak.

Generativitas tidak semata berkaitan dengan didikan dari orangtua ke anak, tapi juga dapat dilakukan di tempat kerja di mana mereka membimbing orang dewasa yang lebih muda.

3. Menghadapi Stres dengan Cara yang Baik

Mereka yang mengatasai stres dan mengurangi kecemasan dengan penanganan adaptif, memiliki hubungan yang lebih baik dan justru membuat sebuah masalah menjadi bermanfaat.

Dengan penanganan tersebut, mereka dapat lebih mudah bergaul dengan orang lain, membuat orang ingin membantu mereka, dan mendapat dukungan sosial lebih banyak. Pada usia 60 hingga 70-an, orang-orang ini memiliki fisik yang lebih baik dan otak yang lebih tajam.

Di antara metode penanganan adaptif adalah:


sublimasi contoh: Anda merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan Anda, jadi Anda memulai sebuah organisasi yang membantu melindungi hak-hak pekerja.
altruisme contoh: Anda berjuang menghadapi kecanduan dan membantu menjadi pendukung bagi pecandu lainnya.
suppression contoh: Anda khawatir tentang pemangkasan kerja di perusahaan Anda, tetapi membuat kekhawatiran tersebut terlewatkan sampai dapat melakukan sesuatu untuk merencanakan masa depan.


Sementara itu penangangan secara maladaptif termasuk penyangkalan, memilih keluar dari masalah (bukan menyelesaikannya), dan proyeksi merupakan hal yang salah.

4. Memiliki Orang yang Dapat Diandalkan

Penelititan itu mengungkap bahwa tak hanya kualitas, namun kuantitas sebuah hubungan juga menjadi hal penting. Mereka menemukan bahwa orang-orang paling merasa bahagia saat menghabiskan waktu bersama orang yang mereka anggap paling berharga.

Menghabiskan waktu dengan pasangan juga dapat memulihkan suasana hati yang sedang buruk atau penyakit fisik yang beriringan dengan penuaan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved