Rutin Membaca Buku Ternyata Mampu Menambah Rentang Usia

Tanggal: 26 Agu 2017 14:56 wib.
Tampang.com - Penelitian terbaru ungkapkan bahwa membaca buku di waktu luang mampu menambah rentang usia seseorang.

Penelitian dari Yale University School of Public Health ini ungkap bahwa orang yang gemar baca buku hidupnya dapat dua tahun lebih lama dibanding yang tidak.

Menurut Avni Bavishi, ilmuwan yang memimpin penelitian ini ungkap buku mampu menstimulasi otak.

“Buku lebih menunjang pembacaan yang mendalam dan menolong pembaca untuk lebih terkait dengan dunia di luar,” katanya.

Psikiatri yang berbasis di Hong Kong, Dr Vanessa Wong setuju akan hal itu. Menurutnya, itu berkaitan dengan imajinasi yang didorong dari buku.

“Mungkin itu membakar imajinasi dan membutuhkan partisipasi yang lebih aktif. Dalam kasus ini, pembaca didorong oleh cara bertutur daripada secara pasif dicekoki informasi, yang membutuhkan lebih sedikit proses kognitif,” ujar Wong, dikutip South China Morning Post.

Studi yang dilakukan Bavishi sendiri, berjudul A Chapter a Day: Association of Book Reading with Longevity, diterbitkan di jurnal Social Sciences & Medicine.

Dalam studinya, ia melihat 3.653 orang Amerika yang berusia di atas 50 tahun, selama 12 tahun.

Hasilnya, 33 persen dari mereka yang tidak membaca meninggal dunia. Namun dari mereka membaca lebih dari 3,5 jam per minggu, yang meninggal hanya 27 persen. “Karena itu, kami percaya ada koneksi kuat antara membaca dan panjangnya hidup,” ia menuturkan.

Peneliti juga mengontrol faktor-faktor lain seperti gaya hidup yang membuat partisipan studi itu meninggal dunia di luar membaca. Dari situ diketahui, membaca buku punya efek yang kurang lebih sama seperti keterampilan bermain musik atau belajar bahasa baru.

Wong menambahkan, membaca mungkin tidak punya koneksi langsung dengan hidup panjang, tapi aktivitas itu mengubah koneksi di otak yang bisa berdampak pada hidup yang lebih lama.

Salah satunya, membaca satu jam atau lebih sehari mengurangi risiko demensia. Penyakit itu diketahui berkaitan dengan harapan hidup yang lebih pendek.

“Penulis studi ini menyarankan bahwa membaca cerita bukan hanya menguatkan daerah [di otak] yang memproses bahasa, tapi juga menetralkan aktivitas yang berkaitan dengan sensasi tubuh, dengan menempatkan pembaca di tubuh tokoh protagonisnya,” ujar Wong menerangkan.

“Ini bisa mengubah keterkaitan somatosensori dan motor korteks,” pungkasnya.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved